Cerpen ini berasal dari sahabat ku yang lagi curhat padaku, mengaharukan, dan aku akui kau sangat tulus ketika sudah cinta dengan orang, jika itu yang terbaik buat kamu pertahanin tapi jangan terlalu berharap supaya kamu tidak terlalu sakit nantinya ya sahabat ku. Judulnya “Ketika Cinta Tak Memihak”
Satu tahun,
ya selama satu tahun telah menunggu. Menunggu cinta yang tak pasti, aku
pun tertipu akan cinta cinta palsu dan kepalsuan yang membawa aku seakan sangat
mencintai dia selama satu tahun itu. Tak menarik untuk terlalu diungkapakan,
ini cinta biasa, bukan cinta istimewa yang orang lain lihat. Tapi ini terlalu
dalam untuk aku rasakan. Aku mencintainya di sisi kebodohanku, kebodohanku
karena membiarkan dia lepas dari ku. Dia yang selama ini aku nanti, dan ku
tunggu, namun itu cukup menyakitkan dan mengecewakan. Dia sering kujumpai di
sela sendau guraunya dengan temannya, tapi aku tak mau menatap melihatnya
karena itu akan membuatku semakin sakit. Dia memberikan bayang semu akan
cintanya yang palsu, tapi aku tak berputus asa menjaga hatinya selama ini, dan
mungkin terlalu tinggi untuk ku gapai. Bagaikan langit dan bumi, terlalu lebay
mungkin untuk diungkapkan. Semnjak satu tahun itu kami tak pernah bertegur
sapa, saling melontar senyum pun tak pernah, itulah saat ku berada begitu jauh
dalam cinta palsu mu ini.
“Teh mau kemana?”. Tanya Bella sahabatku.
“ke kantin, mau ikut?”. Ajakku.
“ehh mau-mau”. Sambung Bella.
Kulihat dirinya yang ku cinta selama ini, duduk di bangku
panjang salah satu kantin di sekolah kami. Aku hanya memandang dia sekilas,
memandang dia yang mungkin tak tahu keberadaanku ini. “Ciee ada yang lagi
seneng nih.” Goda Bella yang membuatku tersenyum kecil dan berkata “apaan sih
kamu?, dia sudah milik orang lain lagi”. langsung melahap makanan yang ada
didepannya.
Bella sebenarnya mengerti tentang perasaanku terhadap dia
yang selama ini aku cinta, meskipun aku berpura-pura di hadapan orang lain
sudah tak peduli dengannya.
Kami, ya kami yaitu aku dan Bela. Bukan aku dan dia yang ku
cinta.
Memperhatikan dia yang terlalu manis untuk ku lihat dan juga
membuat aku semakin sakit hati. Dia yang memberi warna di hariku, memberikan
gairah di setiap langkah mimpiku, dan dia juga yang memberi mimpi palsu dalam
anganku yang membuatku sangat kecewa.
“Teh udah tau belum. Besok classmeet ada futsal?”.
“Udah, kenapa emangnya? Bukannya tiap ada acara itu ada futsal?”
“Iya sih, tapi kali ini si dia ikut main loh.” Goda Bella lagi.
“Udah, kenapa emangnya? Bukannya tiap ada acara itu ada futsal?”
“Iya sih, tapi kali ini si dia ikut main loh.” Goda Bella lagi.
“Sssttt jangan keras-keras dong bilangnya entar temannya
mendengar. Tapi beneran nih, pastilah aku nonton di barisan paling depan buat
semangatin dia.” Jawabku sambil tertawa.
“gak papa lah itu sih terserah kamu saja”. Kami pun
mengakhiri cerita di kantin siang itu. Tertawa kecil bersenda gurau dengan
sahabatnya. Tawanya yang khas membuat teteh tersenyum kecil kala itu. Sembari
meninggalkan kantin, tak lepas pandangan teteh melihat dia yang di cinta, dia
yang berada di kepalsuan.
Tercengangan, kaget, ya itu lah suatu rasa yang aku rasakan
saat aku melihat sosok wanita menghampiri dia yang aku cinta. Wanita itu duduk
di sampingnya, merangkul pundaknya dan dengan senyuman wanita itu mencoba
menenangkan dia yang aku cinta. Entahlah harus bagaimana aku menyikapi hal ini,
aku hanya bisa memandangi mereka. Seharusnya itu aku yang berada di sampingnya
saat itu, Tapi ternyata itu bukan aku, aku masih disini, di sisi sudut sekolah.
Berdiri sembari menatap mereka, dalam tawa dan kebersamaan. Hati ini kacau saat
melihat mereka nampaknya bahagia dalam suasana itu, dan mungkin suasana dimana
mereka penuh cinta dan kebersamaan. Miris rasanya hati ini seperti teriris-iris
hancur berkeping-keping hati ini, namun apa daya tak ada hal lain yang bisa
kuperbuat. Bella tau akan hal itu, dia yang aku cinta sedang bersama wanita
lain. Bella memelukku sambil mengelus-elus pundakku, aku menangis di pelukan
sahabatku itu.
Waktu terus berputar begitu cepat, hari demi hari ku lewati,
pagi siang dan malam terus berganti. Hingga kini telah tiba di penghujung
semester dua di sekolah kami. Aku yang masih setia mencintai dia yang aku cinta
dalam kepalsuan, semakin bergantinya hari semakin aku merasa cinta ini tak
memihak pada ku. Tak ada hal lain selain aku mengagumi dan mencintai diam-diam
dengan tulus. Aku hanya bisa mengikuti alur takdir tuhan untuk kisah ini.
Mencoba menerima kenyataan akan keegoisan ku karena tak ada satu pun di antara
aku dan dia yang ku cinta untuk mencairkan kebekuan di antara kami berdua, dan
tak akan mungkin bersatu kembali karena dia yang ku cinta sudah menjadi milik
orang lain.
Dia yang ku cinta, dia menghianati kepalsuan cinta ini. Tak
pantaslah aku menyebut dia penghianat. Namun semua ini telah terjadi, aku
sangat sakit hati, sakit yang begitu sakit, membuatku seolah jatuh dan tak bisa
berdiri lagi, dan aku menangis dalam kesendirianku karena dia. Dia menggoreskan
pedih dan luka dalam hati ini. Aku kecewa, kecewa yang seharusnya tak pantas
aku limpahkan semua kekecewaan ini kepadanya. Karena dia bukan siapa-siapaku
lagi, dia hanya sebatas sosok yang selama ini aku cinta tanpa kehadirannya yang
tulus.
Semua telah terjadi, aku menahan perih ini saat ku jumpai
dia. Yang jika ku jumpai dia aku selalu menghindar. Meski pun ku tahu, aku tak
bisa berpura-pura untuk tak ingin melihat dia tapi jika aku melihat dia aku tak
bisa menahan perih ini. Bella memberi tau semua kabar tentang dia, termasuk
kekecewaan ini. Nyatanya inilah yang terjadi, dia kini sudah menjadi milik
wanita itu, ya wanita yang berada di sampingnya waktu itu.
Aku tak tahu lagi, aku tak kuasa lagi menerima kepalsuan
cinta ini. Hingga kuputuskan untuk mengakhiri rasa cinta ini, cinta yang
terlanjur begitu dalam kurasakan. Menorehkan luka yang dalam pula.
Seiring waktu, sering kujumpai dia bersama wanita itu.
Mereka berjalan berdua beriringan. Pahit rasanya ketika aku melihat itu, aku hanya
bisa menghembuskan nafas dalam-dalam, menundukan kepalaku akan kekecewaanku ini
sambari menahan air mata ini agar tak menetes di depan umum. Penyesalan karena
keegoisanku untuk merelakannya dimiliki wanita lain. Namun apa daya semua itu
telah terjadi, dan semua itu adalah kisah lalu saat aku mencintainya dalam
kepalsuan selama setahun lamanya.
Terkadang cinta itu penuh kepalsuan, hingga akhirnya aku
merelakan dia bersama rasa itu lenyap dalam kenyataan pahit menyakitkan yang
harus kuterima. Ini menjadi kisah cinta yang mungkin hanya aku dan mereka yang
ku percayai mengetahuinya, menjadikan ini lembaran kenangan di satu tahun yang
lalu.
Selesai.
@oktha_lestari



0 komentar:
Posting Komentar