Awal cerita pada masa putih abu-abu
aku sangat tak faham apa itu ajaran agama yang sesuai syariat. Meskipun sering
mendapatkan ilmu-ilmu agama tetapi aku masih tidak begitu mengerti apa yang
telah di ajarkan padaku, entah itu membosankan atau tidak ingin tahu tentang
ilmu agama, entah aku
juga tidak mengerti. Ketika aku masuk sekolah pada
tingkat SMA, orang tuaku menginginkan aku sekolah di MA dan tidak dibolehkan
untuk melanjutkannya di SMA maupun SMK. Sungguh semua diluar dugaanku, aku
tidak bisa menolak kehendak mereka dan terpaksa mengikuti kemauan mereka. Di
sekolah itu ternyata aku lolos di jurusan keagamaan, betapa kagetnya aku, aku
yang tak begitu faham dengan agama tetapi melalui tes tulis dan baca Qur’an aku
lolos di jurusan agama. Seperti kebanyakan usia pada umumnya, aku mulai
mengenal istilah kebanyakan yakni “pacaran”. Tanpa sadar aku mulai tertarik apa
itu pacaran dan perkiraanku pacaran itu supaya ada yang bantuin mengerjakan tugas
sekolah, jadi aku mengira pacaran hanya untuk meminta bantuan mengerjakan
tugas. Secara tak sengaja aku ikut ekstrakulikuler bersamaan dengan kakak kelas
satu jurusan dengan ku namanya Syams. Sungguh semua di luar dugaanku,
betapa tidak dia satu ruangan denganku ketika Ujian Sekolah dan tempat duduknya
sebelah tempat dudukku. Seiring berjalannya waktu kita semakin akrab dan
menjalin hubungan yakni paccaran. Awalnya aku hanya merasa bahwa hubungan itu
hanya untuk sekedar membantuku dalam mengerjakan tugas sekolah karena aku tak
begitu faham dengan jurusanku ini, dan rasaku padanya biasa hanya sekedar kakak
kelas tapi lama kelamaan rasa itu berubah menjdi nyaman, mungkin karena
kebiasaan.
Hampir kelas X
(sepuluh) akhir aku baru tahu kalau dia sangat dekat dengan teman sekelasnya
namanya Nayla. Ketika menjelang Ujian Akhir Semester aku didatangi oleh Nayla
ke kelasku. Setelah
pelajaran selesai seperti biasa, aku tidak langsung pulang tetapi menunggu
sekolah sepi karena aku tidak suka dengan keramaian dan dari arah pintu kelas
terdengar suara perempuan yang memanggilku.
“Vindaa..
vindaaa..” panggil Nayla di depan kelas.
Dengan spontan
aku menjawabnya iya karena ku pikir itu Dinda temanku dan akupun keluar.
Bingungnya aku di depan kelas melihat orang yang tidak aku kenal.
“kamu yang
namanya Vinda?” tanya dia padaku.
“eemmm iya,
siapa ya kamu?” tanyaku dengan penassaran.
“oooh jadi kamu
ya yang namanya Vinda?” berkata dengan senyum sinis.
“maaf siapa ya
kamu?” tanyaku sangat penasaran.
“aku? Aku Nayla
teman dekatnya Syams” jawabnya dengan tersenyum.
Mendengar
jawaban dia, hatiku terasa sakit, ingin berbicara
tapi tak bisa
terungkap. “mmaa... maksud kamu apa? Teman dekatnya Syams?” Jawabku gugup
karena kaget.
“iya kenapa?
Mulai sekarang kamu jauhin Syams dan putusin dia !!. bentak Nayla.
“kamu bukan
orang tuanya kan, kenapa nyuruh aku mutusin dia” jawabku sinis.
“haaah dasar
adik kelas tak tahu diri, kamu pacaran dengan Syams baru beberapa bulan ini
kan?, dan kamu tidak tahu kalau hubunganku dengan dia sangat dekat, kalau kamu
gak mau di cap sebagai perusak hubungan orang, cepat putusin saja Syams !!”
bentak Nayla.
Aku hanya diam
mendengar perkataan yang begitu menyakitkan itu dan masih sangat tak percaya.
“awas saja
kalau kamu tak segera memutuskannya !!. sambil beranjak pergi dariku.
****
Keesokan
harinya aku menemui Syams untuk menanyakan hal tersebut. Meskipun di sisi lain
aku tak percaya tapi di
sisi lain aku curiga pada Syams, karena sikapnya berubah.
“kenapa kamu dari awal tidak jujur
dengan ku? Huh?” tanyaku dengan menahan isak tangis.
“aku selalu jujur kok sama kamu?
Emang aku bohong apaan?” tanya Syams penasaran.
.”kamu jujur
saja, kalau selama ini kamu sangat dekat dengan Nayla kan?, sudah jangan alasan
aku sudah tahu semua, kamu sudah mengecewakanku, apa kamu dari awal hanya
berpura-pura denganku?”
“iya emang aku
hanya berpura-pura sama kamu, kenapa?!” jawabnya tanpa bersalah.
“lalu selama
ini kenapa kamu membuat aku nyaman? Kenapa kamu harus datang di hidupku? Aku
benci sama kamu, aku menyesal mengenalmu, aku menyesal pacaran sama kamu!,
Dasarr!!. Lalu aku berlari menjauh dari dia.
****
Setelah di
rumah aku menceritaka semua kejadian itu pada ibuku, aku menangis di
pelukannya. Ibuku menengkanku dan memberi nasihat semangat agar aku melupakan
sakit hati itu.
“buu, aku ingin
pindah sekolah aku ingin di pesantren yang dibatasi ketemu
laki-laki” dengan isak
tangis di pelukan ibu.
“kamu mau di
pesantren mana, kalau itu yang membuatmu tenang nak?”
Tanya ibu sembari memelukku.
“terserah ibu, yang penting hanya
pesantren yang bertemu putra dibatasi”. Jawabkku.
“ibu ada pilihan pesantren yang
insyaaAllah bakal merubah kamu menjadi yang lebih baik lagi nak”. Kata ibu
dengan tersenyum.
“di mana itu bu?” sambil memandang
ibu.
“di Solo Jawa Tengah nak, apa kamu
mau?” Tanya ibu padaku.
“jika itu menurut ibu baik,
insyaaAllah aku tak akan mengecewakan ibu dan bapak” jawabku sambil tersenyum.
Setelah ujian kenaikkan kelas aku
dipindahkan oleh orang tuaku ke pesantren yang ada di Solo. Aku berjanji pada
diriku dan orang tuaku untuk belajar sungguh-sungguh di pesantren itu. Aku
segera bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke pesantren,
Setelah kejadian itu aku bisa
mengambil pelajaran agar aku tidak jatuh cinta dan tidak berharap selain kepada Allah, karena semua itu membuat kecewa yang teramat sakit.
****
Setelah sudah beberapa bulan aku
dalam pesantren aku mengerti banyak hal dan salah satunya ialah bahwa pacaran
itu sangat di benci oleh Allah. Aku sangat menyesali hal itu pernah terjadi
dalam hidupku. Karena pada suatu pengajian yang diisi oleh Ustad Malik dan di
dalam pengajian itu menyinggung hal pacaran sehingga aku mengerti mengapa Allah
sangat membenci hal tersebut. Ustad Malik mengucapkan sebuah hadist nabi yang
artinya “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya
Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Ahmad).
Aku berjanji bahwa tidak akan pernah menjalani hal yang dibenci oleh Allah itu,
saat itu juga aku merasa sangat sangat menyesal dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi. Dan ucapan Ustad Malik yang hingga kini masih teringat
jelas yakni: “Jika seorang lelaki mengajakmu berpacaran, maka dia tidak
benar-benar mencintaimu karena Allah”.
“heii Nda, bengong mulu daritadi,
apa tuh yang mengganggu pikiranmu?” sapa Rosa dari belakangku.
“eeh kamu Ros, tidak aku hanya
memikirkan betapa ruginya aku dulu yang menjalani pacaran” jawabku dengan
menundukkan kepala.
“eeeiiiish tak apa lah itu kan kamu
dulu belum mengetahuinya, jadi mulai sekarang jangan melakukannya lagi ya?”
kata Rosa teman baikku di pesantren.
“InsyaaAllah ukhti ku” jawabku
dengan tersenyum manis.
“oh iya, kamu sudah
setoran hafalan qur’an belum? Bareng ya, aku takut kalau setoran sendiri” Rosa memasang wajah
cemberut.
“belum Ros,
emangnya kenapa kamu takut sendiri?” tanyaku.
“iya takut
banyak santri putra di sana yang juga setoran”. Jawab Rosa.
“iiih kamu mah
begitu saja takut, kan kita niatnya setoran hafalan jadi InsyaaAllah mereka
tidak mengganggu”. Jawabku dengan tersenyum.
“iya sih tapi
aku maunya bareng sama kamu Nda”. Menatapku dengan tatapan yang tajam.
“iya deeh iyaa
bareng sama kamu Ros” jawabku sambil tersenyum.
Setelah jamaah
shalat subuh aku dan Rosa bergegas untuk ke tempat yang biasanya untuk setoran
hafalan. Begitu banyak yang sudah mengantri untuk menyetorkan hafalannya.
Sambil menunggu giliran untuk setoran, aku murojaah di tempat biasanya yaitu di
pojokan. Pada hari itu begitu banyak santri putra yang setoran hafalan daripada
santri putri. Tidak lama namaku di panggil oleh Ustad yakni putra dari Pak
Kiyai. Akupun segera menghadap beliau untuk menyetorkan hafalan yang sudah ku
hafalkan, dan setelah selesai setoran aku menunggu Rosa di luar ruangan sambil
murojaah.
****
Tidak terasa
sudah 3 tahun aku berada di pesantren ini merasakan suka duka hidup dalam
lingkup pesantren. Suka duka menghafal Al-Qur’an, bahkan sering di marahi oleh
Ustad karena pernah hafalan ada yang hilang, tapi semua itu sudah terlewati
dengan baik dan berjalan sesuai keinginan. Target untuk menghafal Al-Qur’an
selama 3 tahun sudah terlaksana dan Alhamdulillah besok adalah wisuda untuk
para santri Hafidzul Qur’an, namaku dan nama sahabatku Rosa tercantum di
dalamnya. Tentunya sangat bahagia bisa membanggakan keluarga terutama kedua
orang tua yang selama ini selalu mendoakan aku.
Prosesi wisuda
Hafidzul Qur’an berlangsung dan betapa kagetnya aku ketika namaku di panggil
menjadi wisudawan santri putri terbaik, seketika aku menangis haru dan memeluk
sahabatku Rosa, tidak ku sangka bahwa untuk wisudawan santri putri terbaik
adalah aku, Allhamdulillah yang ku inginkan kali ini terwujud juga, dan ini
pasti kebaikan yang Allah berikan atas kerja keras dan kesungguhanku selama
ini. Untuk wisudawan terbaik akan tinggal di pesanten menjadi Ustad atau
Ustadah, hal itu sangat sekali aku inginkan dan terwujud.
****
Sudah setahun
aku menjadi Ustadah di pesantren dan membantu berjalannya kegiatan pesantren.
Aku juga tidak pernah pulang ke rumah yang di Jawa Timur, bahkan kalau pulang
hanya setahun sekali ketika hari raya, karena menjalankan amanah yang sudah
diberikan dan tidak mungkin untuk mengingkarinya.
“Nak Ustadah,
nanti datang ke dalem ya untuk menemui Pak Kiyai karena beliau ada yang ingin
disampaikan kepada Nak Ustadah”. Ucapan Bu Nyai padaku.
“Inggih Bu
Nyai”. Jawabku dengan sopan.
Begitu gugupnya
aku dipanggil oleh Pak Kiyai ke kediaman beliau. Karena selama ini belum pernah
dipanggil secara pribadi. Setelah acara selesai aku bergegas ke kediaman
beliau, karena takut membuat beliau menunggu.
Setiba aku di
dalem, tidak lama Pak Kiyai menyuruhku untuk ke ruangan pertemuan dan kagetnya
aku di dalam sudah ada Bu Nyai dan Ustad Mannan, ia adalah teman seangkatan
waktu menjadi santri, aku menyukainya diam-diam karena ia juga penghafal Qur’an
dan lantunan ayat-ayat yang keluar dari mulutnya begitu indah, tidak ada yang
mengetahuinya jika aku menyimpan rasa padanya bahkan sahabatku Rosa. Dalam hati
bertanya-tanya ada apa ini, apakah aku sudah berbuat kesalahan.
“Nak Ustadah,
maksud berkumpulnya di sini adalah saya ingin mengkhitbah Nak Ustadah untuk Nak
Ustad Mannan” Perkataan Pak Kiyai padaku.
Seketika aku
mematung tidak bisa berkata-kata karena begitu sangat terkejut dengan bicara
beliau, dan aku hanya bisa menundukkan kepala.
“bagaimana Nak
Ustadah, apakah Nak Ustadah menerima Khitbah dari Nak Ustad Mannan?”. Tanya Pak
Kiyai lagi padaku.
“jika menurut
Pak Kiyai itu terbaik, maka saya tidak bisa menolak Khitbah itu Pak Kiyai”.
Jawabku dengan menahan air mata karena terharu.
Tetapi tetap
sekuat-kuatnya aku menahan air mata, seketika itu air mataku menetes dengan
derasnya, sungguh tak percaya, bahwa orang yang sangat aku kagumi sampai
sekarang mengkhitbahku. Ketika itu Bu Nyai memelukku dengan erat.
“kalian jangan
khawatir, untuk tanggal akad kalian sudah saya tentukan, nanti orang tua Nak
Ustadah biar saya yang memberi kabar kepada mereka, dan orang tua Nak Ustad
sudah mengetahuinya”. Ucap Pak Kiyai.
Sungguh aku
masih tak percaya dengan yang Allah berikan padaku. Sungguh tak ada yang
sia-sia jika bersungguh-sungguh, tak sia-sia aku menahan untuk mengungkapkan
rasa suka itu, semua itu digantikan dengan begitu indahnya. Aku yakin bahwa
kesungguhan untuk menuju hal baik pasti berbuah manis. Betapa sangat bahagianya
aku saat itu, dan setelah hari pernikahan, suamiku Mannan bercerita kalau dia
sudah lama diam-diam memperhatikanku ketika aku sedang murojaah Hafalan Qur’an
di belakang sendiri, ia mencintaiku lebih dulu dan menjaganya dari hal yang
dilarang Allah. Aku dan dia saling mengutarakan perasaan suka yang selama ini
ada secara diam-diam setelah dipersatukan Allah dalam ikatan Halal. Melalui
Mushaf aku menemukan seorang yang begitu indah.
*The End*
@oktha_lestari



0 komentar:
Posting Komentar