Kamis, 15 Februari 2018

Mushaf Terindah



Awal cerita pada masa putih abu-abu aku sangat tak faham apa itu ajaran agama yang sesuai syariat. Meskipun sering mendapatkan ilmu-ilmu agama tetapi aku masih tidak begitu mengerti apa yang telah di ajarkan padaku, entah itu membosankan atau tidak ingin tahu tentang ilmu agama, entah aku juga tidak mengerti. Ketika aku masuk sekolah pada tingkat SMA, orang tuaku menginginkan aku sekolah di MA dan tidak dibolehkan untuk melanjutkannya di SMA maupun SMK. Sungguh semua diluar dugaanku, aku tidak bisa menolak kehendak mereka dan terpaksa mengikuti kemauan mereka. Di sekolah itu ternyata aku lolos di jurusan keagamaan, betapa kagetnya aku, aku yang tak begitu faham dengan agama tetapi melalui tes tulis dan baca Qur’an aku lolos di jurusan agama. Seperti kebanyakan usia pada umumnya, aku mulai mengenal istilah kebanyakan yakni “pacaran”. Tanpa sadar aku mulai tertarik apa itu pacaran dan perkiraanku pacaran itu supaya ada yang bantuin mengerjakan tugas sekolah, jadi aku mengira pacaran hanya untuk meminta bantuan mengerjakan tugas. Secara tak sengaja aku ikut ekstrakulikuler bersamaan dengan kakak kelas satu jurusan dengan ku namanya Syams. Sungguh semua di luar dugaanku, betapa tidak dia satu ruangan denganku ketika Ujian Sekolah dan tempat duduknya sebelah tempat dudukku. Seiring berjalannya waktu kita semakin akrab dan menjalin hubungan yakni paccaran. Awalnya aku hanya merasa bahwa hubungan itu hanya untuk sekedar membantuku dalam mengerjakan tugas sekolah karena aku tak begitu faham dengan jurusanku ini, dan rasaku padanya biasa hanya sekedar kakak kelas tapi lama kelamaan rasa itu berubah menjdi nyaman, mungkin karena kebiasaan.
Hampir kelas X (sepuluh) akhir aku baru tahu kalau dia sangat dekat dengan teman sekelasnya namanya Nayla. Ketika menjelang Ujian Akhir Semester aku didatangi oleh Nayla ke kelasku. Setelah pelajaran selesai seperti biasa, aku tidak langsung pulang tetapi menunggu sekolah sepi karena aku tidak suka dengan keramaian dan dari arah pintu kelas terdengar suara perempuan yang memanggilku.
“Vindaa.. vindaaa..” panggil Nayla di depan kelas.
Dengan spontan aku menjawabnya iya karena ku pikir itu Dinda temanku dan akupun keluar. Bingungnya aku di depan kelas melihat orang yang tidak aku kenal.
“kamu yang namanya Vinda?” tanya dia padaku.
“eemmm iya, siapa ya kamu?” tanyaku dengan penassaran.
“oooh jadi kamu ya yang namanya Vinda?” berkata dengan senyum sinis.
“maaf siapa ya kamu?” tanyaku sangat penasaran.
“aku? Aku Nayla teman dekatnya Syams” jawabnya dengan tersenyum.
Mendengar jawaban dia, hatiku terasa sakit, ingin berbicara tapi tak bisa terungkap. “mmaa... maksud kamu apa? Teman dekatnya Syams?” Jawabku gugup karena kaget.
“iya kenapa? Mulai sekarang kamu jauhin Syams dan putusin dia !!. bentak Nayla.
“kamu bukan orang tuanya kan, kenapa nyuruh aku mutusin dia” jawabku sinis.
“haaah dasar adik kelas tak tahu diri, kamu pacaran dengan Syams baru beberapa bulan ini kan?, dan kamu tidak tahu kalau hubunganku dengan dia sangat dekat, kalau kamu gak mau di cap sebagai perusak hubungan orang, cepat putusin saja Syams !!” bentak Nayla.
Aku hanya diam mendengar perkataan yang begitu menyakitkan itu dan masih sangat tak percaya.
“awas saja kalau kamu tak segera memutuskannya !!. sambil beranjak pergi dariku.
****
Keesokan harinya aku menemui Syams untuk menanyakan hal tersebut. Meskipun di sisi lain aku tak percaya tapi di sisi lain aku curiga pada Syams, karena sikapnya berubah.
“kenapa kamu dari awal tidak jujur dengan ku? Huh?” tanyaku dengan menahan isak tangis.
“aku selalu jujur kok sama kamu? Emang aku bohong apaan?” tanya Syams penasaran.
.”kamu jujur saja, kalau selama ini kamu sangat dekat dengan Nayla kan?, sudah jangan alasan aku sudah tahu semua, kamu sudah mengecewakanku, apa kamu dari awal hanya berpura-pura denganku?”
“iya emang aku hanya berpura-pura sama kamu, kenapa?!” jawabnya tanpa bersalah.
“lalu selama ini kenapa kamu membuat aku nyaman? Kenapa kamu harus datang di hidupku? Aku benci sama kamu, aku menyesal mengenalmu, aku menyesal pacaran sama kamu!, Dasarr!!. Lalu aku berlari menjauh dari dia.
****
Setelah di rumah aku menceritaka semua kejadian itu pada ibuku, aku menangis di pelukannya. Ibuku menengkanku dan memberi nasihat semangat agar aku melupakan sakit hati itu.
“buu, aku ingin pindah sekolah aku ingin di pesantren yang dibatasi ketemu laki-laki” dengan isak tangis di pelukan ibu.
“kamu mau di pesantren mana, kalau itu yang membuatmu tenang nak?” Tanya ibu sembari memelukku.
“terserah ibu, yang penting hanya pesantren yang bertemu putra dibatasi”. Jawabkku.
“ibu ada pilihan pesantren yang insyaaAllah bakal merubah kamu menjadi yang lebih baik lagi nak”. Kata ibu dengan tersenyum.
“di mana itu bu?” sambil memandang ibu.
“di Solo Jawa Tengah nak, apa kamu mau?” Tanya ibu padaku.
“jika itu menurut ibu baik, insyaaAllah aku tak akan mengecewakan ibu dan bapak” jawabku sambil tersenyum.
Setelah ujian kenaikkan kelas aku dipindahkan oleh orang tuaku ke pesantren yang ada di Solo. Aku berjanji pada diriku dan orang tuaku untuk belajar sungguh-sungguh di pesantren itu. Aku segera bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke pesantren,
Setelah kejadian itu aku bisa mengambil pelajaran agar aku tidak jatuh cinta dan tidak berharap selain  kepada Allah, karena semua itu membuat kecewa yang teramat sakit.
****
Setelah sudah beberapa bulan aku dalam pesantren aku mengerti banyak hal dan salah satunya ialah bahwa pacaran itu sangat di benci oleh Allah. Aku sangat menyesali hal itu pernah terjadi dalam hidupku. Karena pada suatu pengajian yang diisi oleh Ustad Malik dan di dalam pengajian itu menyinggung hal pacaran sehingga aku mengerti mengapa Allah sangat membenci hal tersebut. Ustad Malik mengucapkan sebuah hadist nabi yang artinya “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Ahmad). Aku berjanji bahwa tidak akan pernah menjalani hal yang dibenci oleh Allah itu, saat itu juga aku merasa sangat sangat menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan ucapan Ustad Malik yang hingga kini masih teringat jelas yakni: “Jika seorang lelaki mengajakmu berpacaran, maka dia tidak benar-benar mencintaimu karena Allah”.
“heii Nda, bengong mulu daritadi, apa tuh yang mengganggu pikiranmu?” sapa Rosa dari belakangku.
“eeh kamu Ros, tidak aku hanya memikirkan betapa ruginya aku dulu yang menjalani pacaran” jawabku dengan menundukkan kepala.
“eeeiiiish tak apa lah itu kan kamu dulu belum mengetahuinya, jadi mulai sekarang jangan melakukannya lagi ya?” kata Rosa teman baikku di pesantren.
“InsyaaAllah ukhti ku” jawabku dengan tersenyum manis.
“oh iya, kamu sudah setoran hafalan qur’an belum? Bareng ya, aku takut kalau setoran sendiri” Rosa memasang wajah cemberut.
“belum Ros, emangnya kenapa kamu takut sendiri?” tanyaku.
“iya takut banyak santri putra di sana yang juga setoran”. Jawab Rosa.
“iiih kamu mah begitu saja takut, kan kita niatnya setoran hafalan jadi InsyaaAllah mereka tidak mengganggu”. Jawabku dengan tersenyum.
“iya sih tapi aku maunya bareng sama kamu Nda”. Menatapku dengan tatapan yang tajam.
“iya deeh iyaa bareng sama kamu Ros” jawabku sambil tersenyum.
Setelah jamaah shalat subuh aku dan Rosa bergegas untuk ke tempat yang biasanya untuk setoran hafalan. Begitu banyak yang sudah mengantri untuk menyetorkan hafalannya. Sambil menunggu giliran untuk setoran, aku murojaah di tempat biasanya yaitu di pojokan. Pada hari itu begitu banyak santri putra yang setoran hafalan daripada santri putri. Tidak lama namaku di panggil oleh Ustad yakni putra dari Pak Kiyai. Akupun segera menghadap beliau untuk menyetorkan hafalan yang sudah ku hafalkan, dan setelah selesai setoran aku menunggu Rosa di luar ruangan sambil murojaah.
****
Tidak terasa sudah 3 tahun aku berada di pesantren ini merasakan suka duka hidup dalam lingkup pesantren. Suka duka menghafal Al-Qur’an, bahkan sering di marahi oleh Ustad karena pernah hafalan ada yang hilang, tapi semua itu sudah terlewati dengan baik dan berjalan sesuai keinginan. Target untuk menghafal Al-Qur’an selama 3 tahun sudah terlaksana dan Alhamdulillah besok adalah wisuda untuk para santri Hafidzul Qur’an, namaku dan nama sahabatku Rosa tercantum di dalamnya. Tentunya sangat bahagia bisa membanggakan keluarga terutama kedua orang tua yang selama ini selalu mendoakan aku.
Prosesi wisuda Hafidzul Qur’an berlangsung dan betapa kagetnya aku ketika namaku di panggil menjadi wisudawan santri putri terbaik, seketika aku menangis haru dan memeluk sahabatku Rosa, tidak ku sangka bahwa untuk wisudawan santri putri terbaik adalah aku, Allhamdulillah yang ku inginkan kali ini terwujud juga, dan ini pasti kebaikan yang Allah berikan atas kerja keras dan kesungguhanku selama ini. Untuk wisudawan terbaik akan tinggal di pesanten menjadi Ustad atau Ustadah, hal itu sangat sekali aku inginkan dan terwujud.
****
Sudah setahun aku menjadi Ustadah di pesantren dan membantu berjalannya kegiatan pesantren. Aku juga tidak pernah pulang ke rumah yang di Jawa Timur, bahkan kalau pulang hanya setahun sekali ketika hari raya, karena menjalankan amanah yang sudah diberikan dan tidak mungkin untuk mengingkarinya.
“Nak Ustadah, nanti datang ke dalem ya untuk menemui Pak Kiyai karena beliau ada yang ingin disampaikan kepada Nak Ustadah”. Ucapan Bu Nyai padaku.
“Inggih Bu Nyai”. Jawabku dengan sopan.
Begitu gugupnya aku dipanggil oleh Pak Kiyai ke kediaman beliau. Karena selama ini belum pernah dipanggil secara pribadi. Setelah acara selesai aku bergegas ke kediaman beliau, karena takut membuat beliau menunggu.
Setiba aku di dalem, tidak lama Pak Kiyai menyuruhku untuk ke ruangan pertemuan dan kagetnya aku di dalam sudah ada Bu Nyai dan Ustad Mannan, ia adalah teman seangkatan waktu menjadi santri, aku menyukainya diam-diam karena ia juga penghafal Qur’an dan lantunan ayat-ayat yang keluar dari mulutnya begitu indah, tidak ada yang mengetahuinya jika aku menyimpan rasa padanya bahkan sahabatku Rosa. Dalam hati bertanya-tanya ada apa ini, apakah aku sudah berbuat kesalahan.
“Nak Ustadah, maksud berkumpulnya di sini adalah saya ingin mengkhitbah Nak Ustadah untuk Nak Ustad Mannan” Perkataan Pak Kiyai padaku.
Seketika aku mematung tidak bisa berkata-kata karena begitu sangat terkejut dengan bicara beliau, dan aku hanya bisa menundukkan kepala.
“bagaimana Nak Ustadah, apakah Nak Ustadah menerima Khitbah dari Nak Ustad Mannan?”. Tanya Pak Kiyai lagi padaku.
“jika menurut Pak Kiyai itu terbaik, maka saya tidak bisa menolak Khitbah itu Pak Kiyai”. Jawabku dengan menahan air mata karena terharu.
Tetapi tetap sekuat-kuatnya aku menahan air mata, seketika itu air mataku menetes dengan derasnya, sungguh tak percaya, bahwa orang yang sangat aku kagumi sampai sekarang mengkhitbahku. Ketika itu Bu Nyai memelukku dengan erat.
“kalian jangan khawatir, untuk tanggal akad kalian sudah saya tentukan, nanti orang tua Nak Ustadah biar saya yang memberi kabar kepada mereka, dan orang tua Nak Ustad sudah mengetahuinya”. Ucap Pak Kiyai.
Sungguh aku masih tak percaya dengan yang Allah berikan padaku. Sungguh tak ada yang sia-sia jika bersungguh-sungguh, tak sia-sia aku menahan untuk mengungkapkan rasa suka itu, semua itu digantikan dengan begitu indahnya. Aku yakin bahwa kesungguhan untuk menuju hal baik pasti berbuah manis. Betapa sangat bahagianya aku saat itu, dan setelah hari pernikahan, suamiku Mannan bercerita kalau dia sudah lama diam-diam memperhatikanku ketika aku sedang murojaah Hafalan Qur’an di belakang sendiri, ia mencintaiku lebih dulu dan menjaganya dari hal yang dilarang Allah. Aku dan dia saling mengutarakan perasaan suka yang selama ini ada secara diam-diam setelah dipersatukan Allah dalam ikatan Halal. Melalui Mushaf aku menemukan seorang yang begitu indah.

*The End*
@oktha_lestari

0 komentar:

Posting Komentar