Kamis, 15 Februari 2018

Mushaf Terindah



Awal cerita pada masa putih abu-abu aku sangat tak faham apa itu ajaran agama yang sesuai syariat. Meskipun sering mendapatkan ilmu-ilmu agama tetapi aku masih tidak begitu mengerti apa yang telah di ajarkan padaku, entah itu membosankan atau tidak ingin tahu tentang ilmu agama, entah aku juga tidak mengerti. Ketika aku masuk sekolah pada tingkat SMA, orang tuaku menginginkan aku sekolah di MA dan tidak dibolehkan untuk melanjutkannya di SMA maupun SMK. Sungguh semua diluar dugaanku, aku tidak bisa menolak kehendak mereka dan terpaksa mengikuti kemauan mereka. Di sekolah itu ternyata aku lolos di jurusan keagamaan, betapa kagetnya aku, aku yang tak begitu faham dengan agama tetapi melalui tes tulis dan baca Qur’an aku lolos di jurusan agama. Seperti kebanyakan usia pada umumnya, aku mulai mengenal istilah kebanyakan yakni “pacaran”. Tanpa sadar aku mulai tertarik apa itu pacaran dan perkiraanku pacaran itu supaya ada yang bantuin mengerjakan tugas sekolah, jadi aku mengira pacaran hanya untuk meminta bantuan mengerjakan tugas. Secara tak sengaja aku ikut ekstrakulikuler bersamaan dengan kakak kelas satu jurusan dengan ku namanya Syams. Sungguh semua di luar dugaanku, betapa tidak dia satu ruangan denganku ketika Ujian Sekolah dan tempat duduknya sebelah tempat dudukku. Seiring berjalannya waktu kita semakin akrab dan menjalin hubungan yakni paccaran. Awalnya aku hanya merasa bahwa hubungan itu hanya untuk sekedar membantuku dalam mengerjakan tugas sekolah karena aku tak begitu faham dengan jurusanku ini, dan rasaku padanya biasa hanya sekedar kakak kelas tapi lama kelamaan rasa itu berubah menjdi nyaman, mungkin karena kebiasaan.
Hampir kelas X (sepuluh) akhir aku baru tahu kalau dia sangat dekat dengan teman sekelasnya namanya Nayla. Ketika menjelang Ujian Akhir Semester aku didatangi oleh Nayla ke kelasku. Setelah pelajaran selesai seperti biasa, aku tidak langsung pulang tetapi menunggu sekolah sepi karena aku tidak suka dengan keramaian dan dari arah pintu kelas terdengar suara perempuan yang memanggilku.
“Vindaa.. vindaaa..” panggil Nayla di depan kelas.
Dengan spontan aku menjawabnya iya karena ku pikir itu Dinda temanku dan akupun keluar. Bingungnya aku di depan kelas melihat orang yang tidak aku kenal.
“kamu yang namanya Vinda?” tanya dia padaku.
“eemmm iya, siapa ya kamu?” tanyaku dengan penassaran.
“oooh jadi kamu ya yang namanya Vinda?” berkata dengan senyum sinis.
“maaf siapa ya kamu?” tanyaku sangat penasaran.
“aku? Aku Nayla teman dekatnya Syams” jawabnya dengan tersenyum.
Mendengar jawaban dia, hatiku terasa sakit, ingin berbicara tapi tak bisa terungkap. “mmaa... maksud kamu apa? Teman dekatnya Syams?” Jawabku gugup karena kaget.
“iya kenapa? Mulai sekarang kamu jauhin Syams dan putusin dia !!. bentak Nayla.
“kamu bukan orang tuanya kan, kenapa nyuruh aku mutusin dia” jawabku sinis.
“haaah dasar adik kelas tak tahu diri, kamu pacaran dengan Syams baru beberapa bulan ini kan?, dan kamu tidak tahu kalau hubunganku dengan dia sangat dekat, kalau kamu gak mau di cap sebagai perusak hubungan orang, cepat putusin saja Syams !!” bentak Nayla.
Aku hanya diam mendengar perkataan yang begitu menyakitkan itu dan masih sangat tak percaya.
“awas saja kalau kamu tak segera memutuskannya !!. sambil beranjak pergi dariku.
****
Keesokan harinya aku menemui Syams untuk menanyakan hal tersebut. Meskipun di sisi lain aku tak percaya tapi di sisi lain aku curiga pada Syams, karena sikapnya berubah.
“kenapa kamu dari awal tidak jujur dengan ku? Huh?” tanyaku dengan menahan isak tangis.
“aku selalu jujur kok sama kamu? Emang aku bohong apaan?” tanya Syams penasaran.
.”kamu jujur saja, kalau selama ini kamu sangat dekat dengan Nayla kan?, sudah jangan alasan aku sudah tahu semua, kamu sudah mengecewakanku, apa kamu dari awal hanya berpura-pura denganku?”
“iya emang aku hanya berpura-pura sama kamu, kenapa?!” jawabnya tanpa bersalah.
“lalu selama ini kenapa kamu membuat aku nyaman? Kenapa kamu harus datang di hidupku? Aku benci sama kamu, aku menyesal mengenalmu, aku menyesal pacaran sama kamu!, Dasarr!!. Lalu aku berlari menjauh dari dia.
****
Setelah di rumah aku menceritaka semua kejadian itu pada ibuku, aku menangis di pelukannya. Ibuku menengkanku dan memberi nasihat semangat agar aku melupakan sakit hati itu.
“buu, aku ingin pindah sekolah aku ingin di pesantren yang dibatasi ketemu laki-laki” dengan isak tangis di pelukan ibu.
“kamu mau di pesantren mana, kalau itu yang membuatmu tenang nak?” Tanya ibu sembari memelukku.
“terserah ibu, yang penting hanya pesantren yang bertemu putra dibatasi”. Jawabkku.
“ibu ada pilihan pesantren yang insyaaAllah bakal merubah kamu menjadi yang lebih baik lagi nak”. Kata ibu dengan tersenyum.
“di mana itu bu?” sambil memandang ibu.
“di Solo Jawa Tengah nak, apa kamu mau?” Tanya ibu padaku.
“jika itu menurut ibu baik, insyaaAllah aku tak akan mengecewakan ibu dan bapak” jawabku sambil tersenyum.
Setelah ujian kenaikkan kelas aku dipindahkan oleh orang tuaku ke pesantren yang ada di Solo. Aku berjanji pada diriku dan orang tuaku untuk belajar sungguh-sungguh di pesantren itu. Aku segera bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke pesantren,
Setelah kejadian itu aku bisa mengambil pelajaran agar aku tidak jatuh cinta dan tidak berharap selain  kepada Allah, karena semua itu membuat kecewa yang teramat sakit.
****
Setelah sudah beberapa bulan aku dalam pesantren aku mengerti banyak hal dan salah satunya ialah bahwa pacaran itu sangat di benci oleh Allah. Aku sangat menyesali hal itu pernah terjadi dalam hidupku. Karena pada suatu pengajian yang diisi oleh Ustad Malik dan di dalam pengajian itu menyinggung hal pacaran sehingga aku mengerti mengapa Allah sangat membenci hal tersebut. Ustad Malik mengucapkan sebuah hadist nabi yang artinya “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Ahmad). Aku berjanji bahwa tidak akan pernah menjalani hal yang dibenci oleh Allah itu, saat itu juga aku merasa sangat sangat menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan ucapan Ustad Malik yang hingga kini masih teringat jelas yakni: “Jika seorang lelaki mengajakmu berpacaran, maka dia tidak benar-benar mencintaimu karena Allah”.
“heii Nda, bengong mulu daritadi, apa tuh yang mengganggu pikiranmu?” sapa Rosa dari belakangku.
“eeh kamu Ros, tidak aku hanya memikirkan betapa ruginya aku dulu yang menjalani pacaran” jawabku dengan menundukkan kepala.
“eeeiiiish tak apa lah itu kan kamu dulu belum mengetahuinya, jadi mulai sekarang jangan melakukannya lagi ya?” kata Rosa teman baikku di pesantren.
“InsyaaAllah ukhti ku” jawabku dengan tersenyum manis.
“oh iya, kamu sudah setoran hafalan qur’an belum? Bareng ya, aku takut kalau setoran sendiri” Rosa memasang wajah cemberut.
“belum Ros, emangnya kenapa kamu takut sendiri?” tanyaku.
“iya takut banyak santri putra di sana yang juga setoran”. Jawab Rosa.
“iiih kamu mah begitu saja takut, kan kita niatnya setoran hafalan jadi InsyaaAllah mereka tidak mengganggu”. Jawabku dengan tersenyum.
“iya sih tapi aku maunya bareng sama kamu Nda”. Menatapku dengan tatapan yang tajam.
“iya deeh iyaa bareng sama kamu Ros” jawabku sambil tersenyum.
Setelah jamaah shalat subuh aku dan Rosa bergegas untuk ke tempat yang biasanya untuk setoran hafalan. Begitu banyak yang sudah mengantri untuk menyetorkan hafalannya. Sambil menunggu giliran untuk setoran, aku murojaah di tempat biasanya yaitu di pojokan. Pada hari itu begitu banyak santri putra yang setoran hafalan daripada santri putri. Tidak lama namaku di panggil oleh Ustad yakni putra dari Pak Kiyai. Akupun segera menghadap beliau untuk menyetorkan hafalan yang sudah ku hafalkan, dan setelah selesai setoran aku menunggu Rosa di luar ruangan sambil murojaah.
****
Tidak terasa sudah 3 tahun aku berada di pesantren ini merasakan suka duka hidup dalam lingkup pesantren. Suka duka menghafal Al-Qur’an, bahkan sering di marahi oleh Ustad karena pernah hafalan ada yang hilang, tapi semua itu sudah terlewati dengan baik dan berjalan sesuai keinginan. Target untuk menghafal Al-Qur’an selama 3 tahun sudah terlaksana dan Alhamdulillah besok adalah wisuda untuk para santri Hafidzul Qur’an, namaku dan nama sahabatku Rosa tercantum di dalamnya. Tentunya sangat bahagia bisa membanggakan keluarga terutama kedua orang tua yang selama ini selalu mendoakan aku.
Prosesi wisuda Hafidzul Qur’an berlangsung dan betapa kagetnya aku ketika namaku di panggil menjadi wisudawan santri putri terbaik, seketika aku menangis haru dan memeluk sahabatku Rosa, tidak ku sangka bahwa untuk wisudawan santri putri terbaik adalah aku, Allhamdulillah yang ku inginkan kali ini terwujud juga, dan ini pasti kebaikan yang Allah berikan atas kerja keras dan kesungguhanku selama ini. Untuk wisudawan terbaik akan tinggal di pesanten menjadi Ustad atau Ustadah, hal itu sangat sekali aku inginkan dan terwujud.
****
Sudah setahun aku menjadi Ustadah di pesantren dan membantu berjalannya kegiatan pesantren. Aku juga tidak pernah pulang ke rumah yang di Jawa Timur, bahkan kalau pulang hanya setahun sekali ketika hari raya, karena menjalankan amanah yang sudah diberikan dan tidak mungkin untuk mengingkarinya.
“Nak Ustadah, nanti datang ke dalem ya untuk menemui Pak Kiyai karena beliau ada yang ingin disampaikan kepada Nak Ustadah”. Ucapan Bu Nyai padaku.
“Inggih Bu Nyai”. Jawabku dengan sopan.
Begitu gugupnya aku dipanggil oleh Pak Kiyai ke kediaman beliau. Karena selama ini belum pernah dipanggil secara pribadi. Setelah acara selesai aku bergegas ke kediaman beliau, karena takut membuat beliau menunggu.
Setiba aku di dalem, tidak lama Pak Kiyai menyuruhku untuk ke ruangan pertemuan dan kagetnya aku di dalam sudah ada Bu Nyai dan Ustad Mannan, ia adalah teman seangkatan waktu menjadi santri, aku menyukainya diam-diam karena ia juga penghafal Qur’an dan lantunan ayat-ayat yang keluar dari mulutnya begitu indah, tidak ada yang mengetahuinya jika aku menyimpan rasa padanya bahkan sahabatku Rosa. Dalam hati bertanya-tanya ada apa ini, apakah aku sudah berbuat kesalahan.
“Nak Ustadah, maksud berkumpulnya di sini adalah saya ingin mengkhitbah Nak Ustadah untuk Nak Ustad Mannan” Perkataan Pak Kiyai padaku.
Seketika aku mematung tidak bisa berkata-kata karena begitu sangat terkejut dengan bicara beliau, dan aku hanya bisa menundukkan kepala.
“bagaimana Nak Ustadah, apakah Nak Ustadah menerima Khitbah dari Nak Ustad Mannan?”. Tanya Pak Kiyai lagi padaku.
“jika menurut Pak Kiyai itu terbaik, maka saya tidak bisa menolak Khitbah itu Pak Kiyai”. Jawabku dengan menahan air mata karena terharu.
Tetapi tetap sekuat-kuatnya aku menahan air mata, seketika itu air mataku menetes dengan derasnya, sungguh tak percaya, bahwa orang yang sangat aku kagumi sampai sekarang mengkhitbahku. Ketika itu Bu Nyai memelukku dengan erat.
“kalian jangan khawatir, untuk tanggal akad kalian sudah saya tentukan, nanti orang tua Nak Ustadah biar saya yang memberi kabar kepada mereka, dan orang tua Nak Ustad sudah mengetahuinya”. Ucap Pak Kiyai.
Sungguh aku masih tak percaya dengan yang Allah berikan padaku. Sungguh tak ada yang sia-sia jika bersungguh-sungguh, tak sia-sia aku menahan untuk mengungkapkan rasa suka itu, semua itu digantikan dengan begitu indahnya. Aku yakin bahwa kesungguhan untuk menuju hal baik pasti berbuah manis. Betapa sangat bahagianya aku saat itu, dan setelah hari pernikahan, suamiku Mannan bercerita kalau dia sudah lama diam-diam memperhatikanku ketika aku sedang murojaah Hafalan Qur’an di belakang sendiri, ia mencintaiku lebih dulu dan menjaganya dari hal yang dilarang Allah. Aku dan dia saling mengutarakan perasaan suka yang selama ini ada secara diam-diam setelah dipersatukan Allah dalam ikatan Halal. Melalui Mushaf aku menemukan seorang yang begitu indah.

*The End*
@oktha_lestari

Keyakinanku Sudah Berubah



Aku begitu menyesal dengan aku yang dulu, karena aku tidaklah ahli dalam agama. Aku tidak mengerti bahwa masa laluku adalah sangat melenceng dari perintahNya. Semenjak aku masih sekolah tingkat SMP aku mengikuti kegiatan OSIS di sekolah ku. Awalnya dari kegiatan-kegiatan sekolah, aku menjadi salah satu model kegiatanku, dari itulah aku mulai ditawari untuk menjadi model majalah baju terbuka. Semenjak saat itu aku menjadi terkenal di kotaku. Aku semakin suka dengan dunia model ku. Kemudian ketika aku sudah di jenjang SMA aku masih menekuni dunia modelku karena orang tuaku juga support dengan apa yang aku lakukan asalkan tidak mengganggu nilai-nilaiku. Aku sekolah di SMA favorit di daerahku Lamongan. Saat itu aku banyak didekatin oleh para laki-laki di sekolah untuk dijadikan pacarnya, tapi aku tidak begitu menanggapin mereka. Salah satunya ada kakak kelas dia anak basket namanya Ardhan, dia selalu perhatian sama aku, ketika aku berangkat untuk pemotretan Kak Ardhan mengantar dan menjemputku. Awalnya aku hanya menganggap dia sekedar care sama aku tapi lama kelamaan dia membuatku nyaman. Tidak butuh waktu lama dia langsung menyatakan cintanya padaku, dan entah apa yang membuatku luluh dengan dia dan aku mau menjadi pacarnya. Selain aku menjadi model majalah aku juga menjadi penyiar radio di kotaku. Karena menjadi penyiar adalah salah satu keinginanku dan itu tepat karena aku SMA di jurusan Bahasa.
*****

Malam minggu adalah jadwalku menjadi penyiar radio. Setelah maghrib aku sudah siap-siap untuk berangkat. Tiba-tiba kak Ardhan sudah ada di ruang tamu rumahku, aku kaget karena dia tidak bilang padaku mau ke rumah.
“Om, Tante izinkan Ardhan mengantar Putri pergi siaran” ucap Ardhan kepada kedua orang tuaku.
Ayah dan Ibuku mengizinkannya karena Ayah dan Ibu sudah mengetahui hubunganku dengan kak Ardhan.
“Putrii, buruan keluar sayang, kak Ardhan sudah jemput kamu nih” teriak Ibu memanggilku.
“Iya Bu, nggak usah teriak-teriak, Putri sudah denger kok” jawabku sambil tersenyum. “eh Kak Ar, kok nggk bilang kalau mau jemput aku?” tanya ku pada Ardhan.
“Iya Put sengaja nggk bilang sama kamu” jawabnya dengan tersenyum.
“sudah buruan berangkat kalian, dan ingat Ardhan pulangnya jangan malam-malam” ucap Ayah.
“Iya Om, Tante, Ardhan antarin Putri pulang tepat waktu, kami pamit dulu ya” ucap Ardhan pada orang tuaku sambil berjabat tangan.
“Yah, Bu, Putri pergi dulu ya” ucapku sambil berjabat tangan.
Seperti biasa setelah acara radio selesai, aku diajak Kak Ardhan makan malam dulu sebelum pulang. Aku dan kak Ardhan selalu nongkrong di kaffe yang sama karena sudah terlalu nyaman di tempat ini dan ini adalah tempat kenangan kita, karena kaffe ini tempat kak Ardhan nyatakan cintanya padaku.
*****

Dua tahun aku dan kak Ardhan menjalin hubungan ini. Tiga Tahun dia di SMA dan dia akan melanjutkan kuliah nya di Malang. Ketika itu aku sangat sedih karena kita akan menjalin hubungan jarak jauh. Tetapi dia meyakinkan bahwa dia tidak akan menghianatiku. Aku sangat khawatir karena aku nggk mau kehilangan dia karena aku sudah sangat nyaman sama kak Ardhan, sudah terlanjur cinta sama dia. Meskipun pada awalnya aku mau dekat dengan dia hanya semata-mata agar aku terlihat lebih keren karena berpacaran dengan anak basket keren dan terkenal di sekolah-sekolah. Aku merasa sangat bangga dia menjadi milikku dan aku nggk mau kehilangan dia.
Hubunganku sama kak Ardhan berjalan dengan baik. Meskipun hubungan kita jarak jauh tapi kita selalu menjaga kepercayaan masing-masing. Ketika aku sudah lulus SMA aku diterima di Universitas yang ada di Bandung, rencanaku ingin di Malang saja tapi aku lolos yang di Bandung. Orang tuaku sangat setuju karena di Bandung juga ada kakak yang tinggal di sana dan orang tuaku tidak setuju kalau di Malang karena tidak ada keluarga di sana. Jadi kuurungkan keinginanku untuk kuliah di Malang dan aku mengambil yang ada di Bandung.
Keputusanku ini aku ceritakan ke Kak Ardhan kalau aku akan kuliah di Bandung. Awalnya kak Ardhan sangat marah padaku kenapa tidak di Malang atau Surabaya saja. Beberapa bulan aku dan Kak Ardhan marahan sampai hampir hubungan kita berakhir, tetapi dia akhirnya mengerti kenapa aku lebih milih kuliah di Bandung daripada di Malang atau Surabaya.
Selama kuliah aku masih menekuni kegiatanku yang menjadi model dan penyiar. Setiap akhir pekan aku selalu ada pemotretan untuk baju desainer Bandung dan sekitarnya. Aku kuliah juga tidak memakai hijab atau baju muslimah dan menjadi model juga kebanyakan baju-baju yang terbuka dan tidak pernah menjadi model baju muslimah.
*****
Aku berpacaran dengan kak Ardhan sudah lima tahun, hubungan jarak jauhnya sudah tiga tahun. Saat itu aku tidak memikirkan ke hubungan yang lebih serius lagi karena kak Ardhan masih kuliah dan aku juga masih kuliah.
“Puttt Putrii, tunggu aku atuh, aku mau bicara sama kamu” teriak Suci dari jauh kepadaku.
Seketika aku langsung menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang memanggilku.
“eh kamu Suci, ada apa sih?” tanyaku pada Suci.
“langsung saja ya aku tanya kamu. Kamu hari minggu pagi ada acara nggak?” tanya Suci.
“hari minggu depan ya? Kayaknya sih nggk ada. Emang ada apa ci?” ucapku sambil berjalan.
“pass deeh, kamu kan penyiar nih, bisa kan menjadi moderator talkshow? Bisa yaa” rayu Suci padaku
“moderator talkshow? Acara apaan?” tanyaku
“pokoknya acaranya sipp dah, kamu mau yaa, tolong laah bantu aku Put, plissss” ucap Suci sambil merayu aku
“emang moderator yang asli kemana?, kamu kok cari lagi?” tanyaku
“yang aslinya mah dia kemarin kecelakaan jadi nggk bisa ngisi itu, dan aku yang jadi penanggung jawab acara itu put, kamu tahu sendiri kan, ayolah aku percaya kamu bisa put” ucap dia dengan cemberut
“iya deh iya apa sih yang enggak buat sahabatku ini, udah aku mau pergi duluan ya, lagi ada jadwal di radio” sambil senyum dan meninggalkan Suci sahabatku
Tanpa ragu aku menyetujui permintaan sahabatku, karena aku percaya dia nggak bakal mengecewakan aku. Lagian dia adalah teman satu kamarku di kos jadi aku tanpa ragu untuk tidak membantunya.
*****
Hari minggu pagi sebelum aku berangkat ke acara talkshow itu aku bingung memilih baju.
“Put, kamu ngapain milih baju kamu yang terbuka itu atuh?” Tanya Suci kaget
“lah aku kan mau ngisi acara kamu Ci” jawabku santai
“aaiiih kamu itu, ini acara muslimah sayangku, jadi kamu pakai bajunya baju muslimah atuh Putri” omel Suci
“hah? Kamu kenapa nggak ngomong kalau acaranya seperti itu? kan aku gak punya baju muslimah kayak kamu Ci” ucapku pasrah
“udalah kamu pakai baju aku, kamu tinggal milih mana yang kamu suka” jawabnya
“kamu saja deh yang milihkan aku, aku mah nggak tahu masalah begituan”
Tak lama setelah itu aku pergi bersama Suci ke aula kampus. Aku menjadi moderator acara talkshow yang bertemakan “sudahi hubungan tidak halalmu”. Selama acara aku sangat deg degan mungkin karena aku nggak biasa mengisi acara muslimah seperti ini, tapi acara berjalan lancer. Ini pertama kali aku mengisi acara islam banget. Dalam talkshow yang dibawakan oleh pemateri terkenal di Bandung namanya Muhammad Aidan. Salah satu dari kalimatnya yang membuatku teringat-ingat yang sangat menggangguku “buat apa kamu terjebak lama-lama dengan hubungan tidak halalmu, lebih baik kamu akhiri dengan melamarnya, pacaran bertahun-tahun tapi tidak jodoh kan sayang hanya buang-buang waktu dan nambah dosa, meskipun pacarannya jarak jauh mah sama saja”. Kalimat itu yang menggangguku yang selalu aku pikirkan, terlebih lagi Suci menasehatiku kalau pacaran itu kegiatan yang sia-sia yang mendatangkan dosa. Aku berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan Kak Ardhan tapi aku sudah terlanjur sayang, rasanya sangat sedih dan tidak mau kehilangan dia. Aku memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Kak Ardhan untuk menanyakan hubunganku sama dia.
“kak, kamu apa nggak merasa kalau hubungan kita ini salah, pacaran kan dilarang dalam islam, aku nggak mau kehilangan kamu, aku juga nggak mau kita terus-terusan mendapatkan dosa”
“kamu bicara apa sih Put, kok melantur begini sih”
“kak Ar, aku baru sadar kalau hubungan ini nggak benar, kamu sayang aku nggak sih?”
“nggak benar bagaimana? Hubungan ini jelas, kamu itu pacar aku, kalau sayang nggak usah ditanya lagi, aku sayang kamu lah, kalau enggak ngapain aku pertahanin kamu sampai lima tahun ini?”
“kalau kak Ardhan sayang sama aku, apa kak Ardhan mau menikah sama aku?”
“ya mau lah, tapi nggak sekarang, aku kan masih kuliah, kamu juga masih kuliah, aku juga belum dapat penghasilan sendiri, nanti kamu mau aku kasih makan apa, nanti saja kalau aku sudah mapan Putrii”
“kalau kakak nggak mau menikah sama aku, mending kita putus saja daripada kita melakukan dosa terus-terusan”
Perdebatan di chat pun berkelanjutan sampai dia telvon aku, dan pada akhirnya aku sama kak Ardhan mengakhiri hubungan ini, karena kak Ardhan nggak mau menikah dulu. Keputusanku ini sangat membuatku sedih tapi sahabatku Suci selalu mendukungku dan menasehatiku, dan sedikit demi sedikit aku berubah, mulai dari penampilanku yang sekarang sudah memakai hijab, tapi aku masih menjadi model dan sekarang aku hanya menerima tawaran jika itu yang memakai hijab, sering diajak mengikuti acara talkshow nya a’a Aidan. Kata Suci a’a Aidan orangnya shaleh dalam bidang agama, baik hati, dan smart. Aku jadi penasaran dengan a’a Aidan karena bagiku dia biasa-biasa saja belum ada simpati sama dia.
Semenjak hubunganku berakhir sama Kak Ardhan, aku dan dia tidak pernah komunikasi karena aku nggak mau keyakinanku yang tidak mau pacaran lagi goyah. Semua akun sosial media dia aku hapus dari akunku, semua kontak dia aku hapus karena aku nggak mau terjerumus yang namanya pacaran lagi.
*****
Untuk kedua kalinya aku menjadi moderator talkshownya a’a Aidan. Baru di acara ini aku mengenal dia, sebelumnya hanya bicara dengan dia di ruang acara saja. Dia mengingatku kalau aku pernah menjadi moderator di acaranya. Aku sangat kagum sama dia, ternyata benar apa yang dikata sama Suci kalau a’a Aidan benar-benar shaleh. Hubunganku sama a’a Aidan semakin hari semakin baik, aku dan dia berteman baik. Dia sering memotivasiku berhijrah agar selalu istiqomah. Aku merasa sangat beruntung bisa mengenal a’a Aidan. Entah sejak kapan di hatiku ada rasa bahwa aku mencintainya karena Allah. Aku tidak mau rasa ini menimbulkan dosa. Ketika aku liburan kuliah aku pulang ke Lamongan untuk bilang ke orang tuaku kalau aku ingin serius dengan a’a Aidan, dan aku ceritakan keinginanku itu, aku ceritakan tentang a’a Aidan ke orang tuaku. Entah dari mana orang tuaku sudah mengetahui segalanya tentang a’a Aidan.
“kamu ingin menikah? Apa itu tidak mengganggu kuliahmu nak?” tanya Ayah kepadaku
“Putri tapi kamu kan masih kuliah sayang, masak udah mau nikah sih?” tanya Ibuku
“Yah, Bu. Kalau Putri disuruh memilih, Putri bakal milih menikah daripada pacaran, apa Ayah Ibu mau kalau Putri melakukan dosa terus-terusan dengan pacaran? Tidak kan Yah, Bu?” kataku untuk meyakinkan orang tuaku
 “Iya sayang Ibu paham tapi apa kamu siap dalam sebuah pernikahan? Lagian kamu masih kuliah juga, nanti bagaimana kamu menanganinya sayang?” tanya Ibuku
“Putri sudah siap Bu, kuliah kan tidak melarang mahasiswa nya untuk menikah kan? Lagipula itu baik juga kan Bu, daripada berbuat yang mendekati zina, ayolah Ayah sama Ibu restui keinginan Putri, Ayah sama Ibu kan sudah mengetahui segala tentang a’a Aidan, jadi apa yang diragukan lagi sama a’a Aidan?”
“kenapa kamu begitu yakin sih Put sama Aidan? Apa Aidan juga memiliki rasa seperti kamu?” tanya Ayahku
“Putri belum tahu Ayah, yang Putri tahu a’a Aidan belum mengkhitbah siapa-siapa, lagian dia lelaki shaleh, dia nggak mungkin kan ngajakin Putri pacaran, dia kalau ngobrol sama Putri langsung saja malu-malu Yah”
“lah, kamu ini bagaimana sih sayang” ucap Ibu
“Yah, Bu. Keinginan Putri enggak main-main. Ayah Ibu tahu kan Putri yang sekarang sudah berbeda dengan Putri yang dulu. Aku mengerti agama lebih dalam ya gara-gara a’a Aidan yang selalu memotivasiku untuk hijrah untuk istiqomah di hijrahku. Putri yakin Yah, a’a Aidan ada rasa sama Putri. Lamarkan a’a Aidan untuk Putri Ayaaah”
Melihat aku yang begitu yakin dengan a’a Aidan, Ayah dan Ibu pergi ke Bandung untuk melamarkan a’a Aidan untukku. Ketika di Bandung, Ayah dengan kakak laki-lakiku ke rumah a’a Aidan untuk melamarkanku dan Ayah menjelaskan maksud Ayah ke rumah a’a Aidan. Keluarga a’a Aidan sangat terkejut karena niatan untuk mengkhitbah didahuli dari keluargaku bukan dari keluarga Aidan. Ayah menjelaskan bahwa adat di Lamongan kebanyakan dari pihak perempuan yang mengkhitbah atau melamar pihak laki-lakinya. Keluarga Aidan menceritakan bahwa keinginan itu juga akan dilakukan Aidan dua hari lagi untuk ke Lamongan mengkhitbah aku.
*****
Aku di rumah kakak ku yang dari tadi di dalam kamar. Aku sangat khwatir kalau maksud Ayah ke rumah a’a Aidan di tolak. Dalam kamar aku shalat hajat agar segala urusanku dilancarkan oleh Allah. Sekitar pukul 11 siang Ayah dan kakakku sudah pulang tapi aku tidak segera keluar kamar. Aku dipanggil sama Ibu untuk ke ruang keluarga untuk membicarakan soal lamaran itu. Dalam hati aku sangat gelisah tapi aku siap kalau lamaran itu ditolak oleh pihak keluarga a’a Aidan, karena aku juga masih kuliah. Tetapi aku sudah menata hati apabila lamaran itu ditolak. Ayah menceritakan kejadian selama Ayah di rumah a’a Aidan, dan pada saat itu keluarganya sangat terkejut dengan kedatangan Ayah karena dari keluarga a’a Aidan tidak pernah dengar jika ada dari pihak perempuan yang melamar duluan. Dari cerita Ayah semakin membuatku sangat deg-degan dan Ayah bilang kalau lamaran Ayah diterima oleh pihak a’a Aidan. Seketika aku langsung menangis dalam pelukan Ibuku karena masih belum percaya kalau lamaran itu diterima dari keluarga a’a Aidan dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan, tiga minggu lagi aku menikah dengan a’a Aidan. Aku masih tidak percaya bahwa aku baru tiga bulan mengenal a’a Aidan tapi dia akan menjadi suamiku. Tetapi aku yakin ini yang terbaik dan Allah sayang sama aku untuk menuntunku ke jalan yang benar, hubungan yang diridhoiNya. Dari kehidupanku ini aku yakin bahwa lamanya hubungan tidak menentukan bahwa itu yang terbaik untukku, tapi hal yang tidak diduga menjadi yang terbaik. Aku sangat bersyukur pada Allah sudah mengembalikanku ke jalanNya, menjadi muslimah yang sesungguhnya.

*The End*

@oktha_lestari