Aku begitu menyesal dengan aku yang
dulu, karena aku tidaklah ahli dalam agama. Aku tidak mengerti bahwa masa
laluku adalah sangat melenceng dari perintahNya. Semenjak aku masih sekolah
tingkat SMP aku mengikuti kegiatan OSIS di sekolah ku. Awalnya dari
kegiatan-kegiatan sekolah, aku menjadi salah satu model kegiatanku, dari itulah
aku mulai ditawari untuk menjadi model majalah baju terbuka. Semenjak saat itu
aku menjadi terkenal di kotaku. Aku semakin suka dengan dunia model ku.
Kemudian ketika aku sudah di jenjang SMA aku masih menekuni dunia modelku
karena orang tuaku juga support dengan apa yang aku lakukan asalkan tidak
mengganggu nilai-nilaiku. Aku sekolah di SMA favorit di daerahku Lamongan. Saat
itu aku banyak didekatin oleh para laki-laki di sekolah untuk dijadikan pacarnya,
tapi aku tidak begitu menanggapin mereka. Salah satunya ada kakak kelas dia
anak basket namanya Ardhan, dia selalu perhatian sama aku, ketika aku berangkat untuk pemotretan Kak Ardhan
mengantar dan menjemputku. Awalnya aku hanya menganggap dia sekedar care sama
aku tapi lama kelamaan dia membuatku nyaman. Tidak butuh waktu lama dia
langsung menyatakan cintanya padaku, dan entah apa yang membuatku luluh dengan
dia dan aku mau menjadi pacarnya. Selain aku menjadi model majalah aku juga
menjadi penyiar radio di kotaku. Karena menjadi penyiar adalah salah satu
keinginanku dan itu tepat karena aku SMA di jurusan Bahasa.
*****
Malam minggu
adalah jadwalku menjadi penyiar radio. Setelah maghrib aku sudah siap-siap
untuk berangkat. Tiba-tiba kak Ardhan sudah ada di ruang tamu rumahku, aku
kaget karena dia tidak bilang padaku mau ke rumah.
“Om, Tante
izinkan Ardhan mengantar Putri pergi siaran” ucap Ardhan kepada kedua orang
tuaku.
Ayah dan Ibuku
mengizinkannya karena Ayah dan Ibu sudah mengetahui hubunganku dengan kak
Ardhan.
“Putrii, buruan
keluar sayang, kak Ardhan sudah jemput kamu nih” teriak Ibu memanggilku.
“Iya Bu, nggak
usah teriak-teriak, Putri sudah denger kok” jawabku sambil tersenyum. “eh Kak
Ar, kok nggk bilang kalau mau jemput aku?” tanya ku pada Ardhan.
“Iya Put
sengaja nggk bilang sama kamu” jawabnya dengan tersenyum.
“sudah buruan
berangkat kalian, dan ingat Ardhan pulangnya jangan malam-malam” ucap Ayah.
“Iya Om, Tante,
Ardhan antarin Putri pulang tepat waktu, kami pamit dulu ya” ucap Ardhan pada
orang tuaku sambil berjabat tangan.
“Yah, Bu, Putri
pergi dulu ya” ucapku sambil berjabat tangan.
Seperti biasa
setelah acara radio selesai, aku diajak Kak Ardhan makan malam dulu sebelum
pulang. Aku dan kak Ardhan selalu nongkrong di kaffe yang sama karena sudah
terlalu nyaman di tempat ini dan ini adalah tempat kenangan kita, karena kaffe
ini tempat kak Ardhan nyatakan cintanya padaku.
*****
Dua tahun aku
dan kak Ardhan menjalin hubungan ini. Tiga Tahun dia di SMA dan dia akan
melanjutkan kuliah nya di Malang. Ketika itu aku sangat sedih karena kita akan
menjalin hubungan jarak jauh. Tetapi dia meyakinkan bahwa dia tidak akan
menghianatiku. Aku sangat khawatir karena aku nggk mau kehilangan dia karena
aku sudah sangat nyaman sama kak Ardhan, sudah terlanjur cinta sama dia.
Meskipun pada awalnya aku mau dekat dengan dia hanya semata-mata agar aku
terlihat lebih keren karena berpacaran dengan anak basket keren dan terkenal di
sekolah-sekolah. Aku merasa sangat bangga dia menjadi milikku dan aku nggk mau
kehilangan dia.
Hubunganku sama
kak Ardhan berjalan dengan baik. Meskipun hubungan kita jarak jauh tapi kita
selalu menjaga kepercayaan masing-masing. Ketika aku sudah lulus SMA aku
diterima di Universitas yang ada di Bandung, rencanaku ingin di Malang saja
tapi aku lolos yang di Bandung. Orang tuaku sangat setuju karena di Bandung
juga ada kakak yang tinggal di sana dan orang tuaku tidak setuju kalau di
Malang karena tidak ada keluarga di sana. Jadi kuurungkan keinginanku untuk
kuliah di Malang dan aku mengambil yang ada di Bandung.
Keputusanku ini
aku ceritakan ke Kak Ardhan kalau aku akan kuliah di Bandung. Awalnya kak
Ardhan sangat marah padaku kenapa tidak di Malang atau Surabaya saja. Beberapa bulan
aku dan Kak Ardhan marahan sampai hampir hubungan kita berakhir, tetapi dia
akhirnya mengerti kenapa aku lebih milih kuliah di Bandung daripada di Malang
atau Surabaya.
Selama kuliah
aku masih menekuni kegiatanku yang menjadi model dan penyiar. Setiap akhir
pekan aku selalu ada pemotretan untuk baju desainer Bandung dan sekitarnya. Aku
kuliah juga tidak memakai hijab atau baju muslimah dan menjadi model juga
kebanyakan baju-baju yang terbuka dan tidak pernah menjadi model baju muslimah.
*****
Aku berpacaran
dengan kak Ardhan sudah lima tahun, hubungan jarak jauhnya sudah tiga tahun.
Saat itu aku tidak memikirkan ke hubungan yang lebih serius lagi karena kak
Ardhan masih kuliah dan aku juga masih kuliah.
“Puttt Putrii,
tunggu aku atuh, aku mau bicara sama kamu” teriak Suci dari jauh kepadaku.
Seketika aku
langsung menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang memanggilku.
“eh kamu Suci,
ada apa sih?” tanyaku pada Suci.
“langsung saja
ya aku tanya kamu. Kamu hari minggu pagi ada acara nggak?” tanya Suci.
“hari minggu
depan ya? Kayaknya sih nggk ada. Emang ada apa ci?” ucapku sambil berjalan.
“pass deeh,
kamu kan penyiar nih, bisa kan menjadi moderator
talkshow? Bisa yaa”
rayu Suci padaku
“moderator
talkshow? Acara apaan?” tanyaku
“pokoknya acaranya
sipp dah, kamu mau yaa, tolong laah bantu aku Put, plissss” ucap Suci sambil
merayu aku
“emang moderator yang asli kemana?,
kamu kok cari lagi?” tanyaku
“yang aslinya mah dia kemarin
kecelakaan jadi nggk bisa ngisi itu, dan aku yang jadi penanggung jawab acara
itu put, kamu tahu sendiri kan, ayolah aku percaya kamu bisa put” ucap dia
dengan cemberut
“iya deh iya apa sih yang enggak
buat sahabatku ini, udah aku mau pergi duluan ya, lagi ada jadwal di radio”
sambil senyum dan meninggalkan Suci sahabatku
Tanpa ragu aku menyetujui permintaan
sahabatku, karena aku percaya dia nggak bakal mengecewakan aku. Lagian dia
adalah teman satu kamarku di kos jadi aku tanpa ragu untuk tidak membantunya.
*****
Hari minggu pagi sebelum aku
berangkat ke acara talkshow itu aku bingung memilih baju.
“Put, kamu ngapain milih baju kamu
yang terbuka itu atuh?” Tanya Suci kaget
“lah aku kan mau ngisi acara kamu
Ci” jawabku santai
“aaiiih kamu itu, ini acara muslimah
sayangku, jadi kamu pakai bajunya baju muslimah atuh Putri” omel Suci
“hah? Kamu kenapa nggak ngomong
kalau acaranya seperti itu? kan aku gak punya baju muslimah kayak kamu Ci”
ucapku pasrah
“udalah kamu pakai baju aku, kamu
tinggal milih mana yang kamu suka” jawabnya
“kamu saja deh yang milihkan aku,
aku mah nggak tahu masalah begituan”
Tak lama setelah itu aku pergi
bersama Suci ke aula kampus. Aku menjadi moderator acara talkshow yang
bertemakan “sudahi hubungan tidak halalmu”. Selama acara aku sangat deg degan
mungkin karena aku nggak biasa mengisi acara muslimah seperti ini, tapi acara
berjalan lancer. Ini pertama kali aku mengisi acara islam banget. Dalam
talkshow yang dibawakan oleh pemateri terkenal di Bandung namanya Muhammad
Aidan. Salah satu dari kalimatnya yang membuatku teringat-ingat yang sangat menggangguku
“buat apa kamu terjebak lama-lama dengan hubungan tidak halalmu, lebih baik
kamu akhiri dengan melamarnya, pacaran bertahun-tahun tapi tidak jodoh kan
sayang hanya buang-buang waktu dan nambah dosa, meskipun pacarannya jarak jauh
mah sama saja”. Kalimat itu yang menggangguku yang selalu aku pikirkan,
terlebih lagi Suci menasehatiku kalau pacaran itu kegiatan yang sia-sia yang
mendatangkan dosa. Aku berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan Kak Ardhan
tapi aku sudah terlanjur sayang, rasanya sangat sedih dan tidak mau kehilangan
dia. Aku memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Kak Ardhan untuk menanyakan
hubunganku sama dia.
“kak, kamu apa nggak merasa kalau
hubungan kita ini salah, pacaran kan dilarang dalam islam, aku nggak mau
kehilangan kamu, aku juga nggak mau kita terus-terusan mendapatkan dosa”
“kamu bicara apa sih Put, kok
melantur begini sih”
“kak Ar, aku baru sadar kalau
hubungan ini nggak benar, kamu sayang aku nggak sih?”
“nggak benar bagaimana? Hubungan ini
jelas, kamu itu pacar aku, kalau sayang nggak usah ditanya lagi, aku sayang
kamu lah, kalau enggak ngapain aku pertahanin kamu sampai lima tahun ini?”
“kalau kak Ardhan sayang sama aku,
apa kak Ardhan mau menikah sama aku?”
“ya mau lah, tapi nggak sekarang, aku kan masih
kuliah, kamu juga masih kuliah, aku juga belum dapat penghasilan sendiri, nanti
kamu mau aku kasih makan apa, nanti saja kalau aku sudah mapan Putrii”
“kalau kakak
nggak mau menikah sama aku, mending kita putus saja daripada kita melakukan
dosa terus-terusan”
Perdebatan di
chat pun berkelanjutan sampai dia telvon aku, dan pada akhirnya aku sama kak
Ardhan mengakhiri hubungan ini, karena kak Ardhan nggak mau menikah dulu.
Keputusanku ini sangat membuatku sedih tapi sahabatku Suci selalu mendukungku
dan menasehatiku, dan sedikit demi sedikit aku berubah, mulai dari penampilanku
yang sekarang sudah memakai hijab, tapi aku masih menjadi model dan sekarang
aku hanya menerima tawaran jika itu yang memakai hijab, sering diajak mengikuti
acara talkshow nya a’a Aidan. Kata Suci a’a Aidan orangnya shaleh dalam bidang
agama, baik hati, dan smart. Aku jadi penasaran dengan a’a Aidan karena bagiku
dia biasa-biasa saja belum ada simpati sama dia.
Semenjak
hubunganku berakhir sama Kak Ardhan, aku dan dia tidak pernah komunikasi karena
aku nggak mau keyakinanku yang tidak mau pacaran lagi goyah. Semua akun sosial
media dia aku hapus dari akunku, semua kontak dia aku hapus karena aku nggak
mau terjerumus yang namanya pacaran lagi.
*****
Untuk kedua
kalinya aku menjadi moderator talkshownya a’a Aidan. Baru di acara ini aku
mengenal dia, sebelumnya hanya bicara dengan dia di ruang acara saja. Dia
mengingatku kalau aku pernah menjadi moderator di acaranya. Aku sangat kagum
sama dia, ternyata benar apa yang dikata sama Suci kalau a’a Aidan benar-benar
shaleh. Hubunganku sama a’a Aidan semakin hari semakin baik, aku dan dia
berteman baik. Dia sering memotivasiku berhijrah agar selalu istiqomah. Aku
merasa sangat beruntung bisa mengenal a’a Aidan. Entah sejak kapan di hatiku
ada rasa bahwa aku mencintainya karena Allah. Aku tidak mau rasa ini
menimbulkan dosa. Ketika aku liburan kuliah aku pulang ke Lamongan untuk bilang
ke orang tuaku kalau aku ingin serius dengan a’a Aidan, dan aku ceritakan
keinginanku itu, aku ceritakan tentang a’a Aidan ke orang tuaku. Entah dari
mana orang tuaku sudah mengetahui segalanya tentang a’a Aidan.
“kamu ingin
menikah? Apa itu tidak mengganggu kuliahmu nak?” tanya Ayah kepadaku
“Putri tapi
kamu kan masih kuliah sayang, masak udah mau nikah sih?” tanya Ibuku
“Yah, Bu. Kalau
Putri disuruh memilih, Putri bakal milih menikah daripada pacaran, apa Ayah Ibu
mau kalau Putri melakukan dosa terus-terusan dengan pacaran? Tidak kan Yah, Bu?”
kataku untuk meyakinkan orang tuaku
“Iya sayang Ibu paham tapi apa kamu siap dalam
sebuah pernikahan? Lagian kamu masih kuliah juga, nanti bagaimana kamu
menanganinya sayang?” tanya Ibuku
“Putri sudah
siap Bu, kuliah kan tidak melarang mahasiswa nya untuk menikah kan? Lagipula
itu baik juga kan Bu, daripada berbuat yang mendekati zina, ayolah Ayah sama
Ibu restui keinginan Putri, Ayah sama Ibu kan sudah mengetahui segala tentang
a’a Aidan, jadi apa yang diragukan lagi sama a’a Aidan?”
“kenapa kamu
begitu yakin sih Put sama Aidan? Apa Aidan juga memiliki rasa seperti kamu?”
tanya Ayahku
“Putri belum
tahu Ayah, yang Putri tahu a’a Aidan belum mengkhitbah siapa-siapa, lagian dia
lelaki shaleh, dia nggak mungkin kan ngajakin Putri pacaran, dia kalau ngobrol
sama Putri langsung saja malu-malu Yah”
“lah, kamu ini
bagaimana sih sayang” ucap Ibu
“Yah, Bu.
Keinginan Putri enggak main-main. Ayah Ibu tahu kan Putri yang sekarang sudah
berbeda dengan Putri yang dulu. Aku mengerti agama lebih dalam ya gara-gara a’a
Aidan yang selalu memotivasiku untuk hijrah untuk istiqomah di hijrahku. Putri
yakin Yah, a’a Aidan ada rasa sama Putri. Lamarkan a’a Aidan untuk Putri
Ayaaah”
Melihat aku
yang begitu yakin dengan a’a Aidan, Ayah dan Ibu pergi ke Bandung untuk
melamarkan a’a Aidan untukku. Ketika di Bandung, Ayah dengan kakak laki-lakiku
ke rumah a’a Aidan untuk melamarkanku dan Ayah menjelaskan maksud Ayah ke rumah
a’a Aidan. Keluarga a’a Aidan sangat terkejut karena niatan untuk mengkhitbah
didahuli dari keluargaku bukan dari keluarga Aidan. Ayah menjelaskan bahwa adat
di Lamongan kebanyakan dari pihak perempuan yang mengkhitbah atau melamar pihak
laki-lakinya. Keluarga Aidan menceritakan bahwa keinginan itu juga akan
dilakukan Aidan dua hari lagi untuk ke Lamongan mengkhitbah aku.
*****
Aku di rumah
kakak ku yang dari tadi di dalam kamar. Aku sangat khwatir kalau maksud Ayah ke
rumah a’a Aidan di tolak. Dalam kamar aku shalat hajat agar segala urusanku
dilancarkan oleh Allah. Sekitar pukul 11 siang Ayah dan kakakku sudah pulang
tapi aku tidak segera keluar kamar. Aku dipanggil sama Ibu untuk ke ruang keluarga
untuk membicarakan soal lamaran itu. Dalam hati aku sangat gelisah tapi aku
siap kalau lamaran itu ditolak oleh pihak keluarga a’a Aidan, karena aku juga
masih kuliah. Tetapi aku sudah menata hati apabila lamaran itu ditolak. Ayah
menceritakan kejadian selama Ayah di rumah a’a Aidan, dan pada saat itu
keluarganya sangat terkejut dengan kedatangan Ayah karena dari keluarga a’a
Aidan tidak pernah dengar jika ada dari pihak perempuan yang melamar duluan.
Dari cerita Ayah semakin membuatku sangat deg-degan dan Ayah bilang kalau
lamaran Ayah diterima oleh pihak a’a Aidan. Seketika aku langsung menangis
dalam pelukan Ibuku karena masih belum percaya kalau lamaran itu diterima dari
keluarga a’a Aidan dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan, tiga minggu lagi
aku menikah dengan a’a Aidan. Aku masih tidak percaya bahwa aku baru tiga bulan
mengenal a’a Aidan tapi dia akan menjadi suamiku. Tetapi aku yakin ini yang
terbaik dan Allah sayang sama aku untuk menuntunku ke jalan yang benar,
hubungan yang diridhoiNya. Dari kehidupanku ini aku yakin bahwa lamanya
hubungan tidak menentukan bahwa itu yang terbaik untukku, tapi hal yang tidak
diduga menjadi yang terbaik. Aku sangat bersyukur pada Allah sudah
mengembalikanku ke jalanNya, menjadi muslimah yang sesungguhnya.
*The End*



0 komentar:
Posting Komentar