Kamis, 15 Februari 2018

Keyakinanku Sudah Berubah



Aku begitu menyesal dengan aku yang dulu, karena aku tidaklah ahli dalam agama. Aku tidak mengerti bahwa masa laluku adalah sangat melenceng dari perintahNya. Semenjak aku masih sekolah tingkat SMP aku mengikuti kegiatan OSIS di sekolah ku. Awalnya dari kegiatan-kegiatan sekolah, aku menjadi salah satu model kegiatanku, dari itulah aku mulai ditawari untuk menjadi model majalah baju terbuka. Semenjak saat itu aku menjadi terkenal di kotaku. Aku semakin suka dengan dunia model ku. Kemudian ketika aku sudah di jenjang SMA aku masih menekuni dunia modelku karena orang tuaku juga support dengan apa yang aku lakukan asalkan tidak mengganggu nilai-nilaiku. Aku sekolah di SMA favorit di daerahku Lamongan. Saat itu aku banyak didekatin oleh para laki-laki di sekolah untuk dijadikan pacarnya, tapi aku tidak begitu menanggapin mereka. Salah satunya ada kakak kelas dia anak basket namanya Ardhan, dia selalu perhatian sama aku, ketika aku berangkat untuk pemotretan Kak Ardhan mengantar dan menjemputku. Awalnya aku hanya menganggap dia sekedar care sama aku tapi lama kelamaan dia membuatku nyaman. Tidak butuh waktu lama dia langsung menyatakan cintanya padaku, dan entah apa yang membuatku luluh dengan dia dan aku mau menjadi pacarnya. Selain aku menjadi model majalah aku juga menjadi penyiar radio di kotaku. Karena menjadi penyiar adalah salah satu keinginanku dan itu tepat karena aku SMA di jurusan Bahasa.
*****

Malam minggu adalah jadwalku menjadi penyiar radio. Setelah maghrib aku sudah siap-siap untuk berangkat. Tiba-tiba kak Ardhan sudah ada di ruang tamu rumahku, aku kaget karena dia tidak bilang padaku mau ke rumah.
“Om, Tante izinkan Ardhan mengantar Putri pergi siaran” ucap Ardhan kepada kedua orang tuaku.
Ayah dan Ibuku mengizinkannya karena Ayah dan Ibu sudah mengetahui hubunganku dengan kak Ardhan.
“Putrii, buruan keluar sayang, kak Ardhan sudah jemput kamu nih” teriak Ibu memanggilku.
“Iya Bu, nggak usah teriak-teriak, Putri sudah denger kok” jawabku sambil tersenyum. “eh Kak Ar, kok nggk bilang kalau mau jemput aku?” tanya ku pada Ardhan.
“Iya Put sengaja nggk bilang sama kamu” jawabnya dengan tersenyum.
“sudah buruan berangkat kalian, dan ingat Ardhan pulangnya jangan malam-malam” ucap Ayah.
“Iya Om, Tante, Ardhan antarin Putri pulang tepat waktu, kami pamit dulu ya” ucap Ardhan pada orang tuaku sambil berjabat tangan.
“Yah, Bu, Putri pergi dulu ya” ucapku sambil berjabat tangan.
Seperti biasa setelah acara radio selesai, aku diajak Kak Ardhan makan malam dulu sebelum pulang. Aku dan kak Ardhan selalu nongkrong di kaffe yang sama karena sudah terlalu nyaman di tempat ini dan ini adalah tempat kenangan kita, karena kaffe ini tempat kak Ardhan nyatakan cintanya padaku.
*****

Dua tahun aku dan kak Ardhan menjalin hubungan ini. Tiga Tahun dia di SMA dan dia akan melanjutkan kuliah nya di Malang. Ketika itu aku sangat sedih karena kita akan menjalin hubungan jarak jauh. Tetapi dia meyakinkan bahwa dia tidak akan menghianatiku. Aku sangat khawatir karena aku nggk mau kehilangan dia karena aku sudah sangat nyaman sama kak Ardhan, sudah terlanjur cinta sama dia. Meskipun pada awalnya aku mau dekat dengan dia hanya semata-mata agar aku terlihat lebih keren karena berpacaran dengan anak basket keren dan terkenal di sekolah-sekolah. Aku merasa sangat bangga dia menjadi milikku dan aku nggk mau kehilangan dia.
Hubunganku sama kak Ardhan berjalan dengan baik. Meskipun hubungan kita jarak jauh tapi kita selalu menjaga kepercayaan masing-masing. Ketika aku sudah lulus SMA aku diterima di Universitas yang ada di Bandung, rencanaku ingin di Malang saja tapi aku lolos yang di Bandung. Orang tuaku sangat setuju karena di Bandung juga ada kakak yang tinggal di sana dan orang tuaku tidak setuju kalau di Malang karena tidak ada keluarga di sana. Jadi kuurungkan keinginanku untuk kuliah di Malang dan aku mengambil yang ada di Bandung.
Keputusanku ini aku ceritakan ke Kak Ardhan kalau aku akan kuliah di Bandung. Awalnya kak Ardhan sangat marah padaku kenapa tidak di Malang atau Surabaya saja. Beberapa bulan aku dan Kak Ardhan marahan sampai hampir hubungan kita berakhir, tetapi dia akhirnya mengerti kenapa aku lebih milih kuliah di Bandung daripada di Malang atau Surabaya.
Selama kuliah aku masih menekuni kegiatanku yang menjadi model dan penyiar. Setiap akhir pekan aku selalu ada pemotretan untuk baju desainer Bandung dan sekitarnya. Aku kuliah juga tidak memakai hijab atau baju muslimah dan menjadi model juga kebanyakan baju-baju yang terbuka dan tidak pernah menjadi model baju muslimah.
*****
Aku berpacaran dengan kak Ardhan sudah lima tahun, hubungan jarak jauhnya sudah tiga tahun. Saat itu aku tidak memikirkan ke hubungan yang lebih serius lagi karena kak Ardhan masih kuliah dan aku juga masih kuliah.
“Puttt Putrii, tunggu aku atuh, aku mau bicara sama kamu” teriak Suci dari jauh kepadaku.
Seketika aku langsung menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang memanggilku.
“eh kamu Suci, ada apa sih?” tanyaku pada Suci.
“langsung saja ya aku tanya kamu. Kamu hari minggu pagi ada acara nggak?” tanya Suci.
“hari minggu depan ya? Kayaknya sih nggk ada. Emang ada apa ci?” ucapku sambil berjalan.
“pass deeh, kamu kan penyiar nih, bisa kan menjadi moderator talkshow? Bisa yaa” rayu Suci padaku
“moderator talkshow? Acara apaan?” tanyaku
“pokoknya acaranya sipp dah, kamu mau yaa, tolong laah bantu aku Put, plissss” ucap Suci sambil merayu aku
“emang moderator yang asli kemana?, kamu kok cari lagi?” tanyaku
“yang aslinya mah dia kemarin kecelakaan jadi nggk bisa ngisi itu, dan aku yang jadi penanggung jawab acara itu put, kamu tahu sendiri kan, ayolah aku percaya kamu bisa put” ucap dia dengan cemberut
“iya deh iya apa sih yang enggak buat sahabatku ini, udah aku mau pergi duluan ya, lagi ada jadwal di radio” sambil senyum dan meninggalkan Suci sahabatku
Tanpa ragu aku menyetujui permintaan sahabatku, karena aku percaya dia nggak bakal mengecewakan aku. Lagian dia adalah teman satu kamarku di kos jadi aku tanpa ragu untuk tidak membantunya.
*****
Hari minggu pagi sebelum aku berangkat ke acara talkshow itu aku bingung memilih baju.
“Put, kamu ngapain milih baju kamu yang terbuka itu atuh?” Tanya Suci kaget
“lah aku kan mau ngisi acara kamu Ci” jawabku santai
“aaiiih kamu itu, ini acara muslimah sayangku, jadi kamu pakai bajunya baju muslimah atuh Putri” omel Suci
“hah? Kamu kenapa nggak ngomong kalau acaranya seperti itu? kan aku gak punya baju muslimah kayak kamu Ci” ucapku pasrah
“udalah kamu pakai baju aku, kamu tinggal milih mana yang kamu suka” jawabnya
“kamu saja deh yang milihkan aku, aku mah nggak tahu masalah begituan”
Tak lama setelah itu aku pergi bersama Suci ke aula kampus. Aku menjadi moderator acara talkshow yang bertemakan “sudahi hubungan tidak halalmu”. Selama acara aku sangat deg degan mungkin karena aku nggak biasa mengisi acara muslimah seperti ini, tapi acara berjalan lancer. Ini pertama kali aku mengisi acara islam banget. Dalam talkshow yang dibawakan oleh pemateri terkenal di Bandung namanya Muhammad Aidan. Salah satu dari kalimatnya yang membuatku teringat-ingat yang sangat menggangguku “buat apa kamu terjebak lama-lama dengan hubungan tidak halalmu, lebih baik kamu akhiri dengan melamarnya, pacaran bertahun-tahun tapi tidak jodoh kan sayang hanya buang-buang waktu dan nambah dosa, meskipun pacarannya jarak jauh mah sama saja”. Kalimat itu yang menggangguku yang selalu aku pikirkan, terlebih lagi Suci menasehatiku kalau pacaran itu kegiatan yang sia-sia yang mendatangkan dosa. Aku berniat untuk mengakhiri hubunganku dengan Kak Ardhan tapi aku sudah terlanjur sayang, rasanya sangat sedih dan tidak mau kehilangan dia. Aku memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Kak Ardhan untuk menanyakan hubunganku sama dia.
“kak, kamu apa nggak merasa kalau hubungan kita ini salah, pacaran kan dilarang dalam islam, aku nggak mau kehilangan kamu, aku juga nggak mau kita terus-terusan mendapatkan dosa”
“kamu bicara apa sih Put, kok melantur begini sih”
“kak Ar, aku baru sadar kalau hubungan ini nggak benar, kamu sayang aku nggak sih?”
“nggak benar bagaimana? Hubungan ini jelas, kamu itu pacar aku, kalau sayang nggak usah ditanya lagi, aku sayang kamu lah, kalau enggak ngapain aku pertahanin kamu sampai lima tahun ini?”
“kalau kak Ardhan sayang sama aku, apa kak Ardhan mau menikah sama aku?”
“ya mau lah, tapi nggak sekarang, aku kan masih kuliah, kamu juga masih kuliah, aku juga belum dapat penghasilan sendiri, nanti kamu mau aku kasih makan apa, nanti saja kalau aku sudah mapan Putrii”
“kalau kakak nggak mau menikah sama aku, mending kita putus saja daripada kita melakukan dosa terus-terusan”
Perdebatan di chat pun berkelanjutan sampai dia telvon aku, dan pada akhirnya aku sama kak Ardhan mengakhiri hubungan ini, karena kak Ardhan nggak mau menikah dulu. Keputusanku ini sangat membuatku sedih tapi sahabatku Suci selalu mendukungku dan menasehatiku, dan sedikit demi sedikit aku berubah, mulai dari penampilanku yang sekarang sudah memakai hijab, tapi aku masih menjadi model dan sekarang aku hanya menerima tawaran jika itu yang memakai hijab, sering diajak mengikuti acara talkshow nya a’a Aidan. Kata Suci a’a Aidan orangnya shaleh dalam bidang agama, baik hati, dan smart. Aku jadi penasaran dengan a’a Aidan karena bagiku dia biasa-biasa saja belum ada simpati sama dia.
Semenjak hubunganku berakhir sama Kak Ardhan, aku dan dia tidak pernah komunikasi karena aku nggak mau keyakinanku yang tidak mau pacaran lagi goyah. Semua akun sosial media dia aku hapus dari akunku, semua kontak dia aku hapus karena aku nggak mau terjerumus yang namanya pacaran lagi.
*****
Untuk kedua kalinya aku menjadi moderator talkshownya a’a Aidan. Baru di acara ini aku mengenal dia, sebelumnya hanya bicara dengan dia di ruang acara saja. Dia mengingatku kalau aku pernah menjadi moderator di acaranya. Aku sangat kagum sama dia, ternyata benar apa yang dikata sama Suci kalau a’a Aidan benar-benar shaleh. Hubunganku sama a’a Aidan semakin hari semakin baik, aku dan dia berteman baik. Dia sering memotivasiku berhijrah agar selalu istiqomah. Aku merasa sangat beruntung bisa mengenal a’a Aidan. Entah sejak kapan di hatiku ada rasa bahwa aku mencintainya karena Allah. Aku tidak mau rasa ini menimbulkan dosa. Ketika aku liburan kuliah aku pulang ke Lamongan untuk bilang ke orang tuaku kalau aku ingin serius dengan a’a Aidan, dan aku ceritakan keinginanku itu, aku ceritakan tentang a’a Aidan ke orang tuaku. Entah dari mana orang tuaku sudah mengetahui segalanya tentang a’a Aidan.
“kamu ingin menikah? Apa itu tidak mengganggu kuliahmu nak?” tanya Ayah kepadaku
“Putri tapi kamu kan masih kuliah sayang, masak udah mau nikah sih?” tanya Ibuku
“Yah, Bu. Kalau Putri disuruh memilih, Putri bakal milih menikah daripada pacaran, apa Ayah Ibu mau kalau Putri melakukan dosa terus-terusan dengan pacaran? Tidak kan Yah, Bu?” kataku untuk meyakinkan orang tuaku
 “Iya sayang Ibu paham tapi apa kamu siap dalam sebuah pernikahan? Lagian kamu masih kuliah juga, nanti bagaimana kamu menanganinya sayang?” tanya Ibuku
“Putri sudah siap Bu, kuliah kan tidak melarang mahasiswa nya untuk menikah kan? Lagipula itu baik juga kan Bu, daripada berbuat yang mendekati zina, ayolah Ayah sama Ibu restui keinginan Putri, Ayah sama Ibu kan sudah mengetahui segala tentang a’a Aidan, jadi apa yang diragukan lagi sama a’a Aidan?”
“kenapa kamu begitu yakin sih Put sama Aidan? Apa Aidan juga memiliki rasa seperti kamu?” tanya Ayahku
“Putri belum tahu Ayah, yang Putri tahu a’a Aidan belum mengkhitbah siapa-siapa, lagian dia lelaki shaleh, dia nggak mungkin kan ngajakin Putri pacaran, dia kalau ngobrol sama Putri langsung saja malu-malu Yah”
“lah, kamu ini bagaimana sih sayang” ucap Ibu
“Yah, Bu. Keinginan Putri enggak main-main. Ayah Ibu tahu kan Putri yang sekarang sudah berbeda dengan Putri yang dulu. Aku mengerti agama lebih dalam ya gara-gara a’a Aidan yang selalu memotivasiku untuk hijrah untuk istiqomah di hijrahku. Putri yakin Yah, a’a Aidan ada rasa sama Putri. Lamarkan a’a Aidan untuk Putri Ayaaah”
Melihat aku yang begitu yakin dengan a’a Aidan, Ayah dan Ibu pergi ke Bandung untuk melamarkan a’a Aidan untukku. Ketika di Bandung, Ayah dengan kakak laki-lakiku ke rumah a’a Aidan untuk melamarkanku dan Ayah menjelaskan maksud Ayah ke rumah a’a Aidan. Keluarga a’a Aidan sangat terkejut karena niatan untuk mengkhitbah didahuli dari keluargaku bukan dari keluarga Aidan. Ayah menjelaskan bahwa adat di Lamongan kebanyakan dari pihak perempuan yang mengkhitbah atau melamar pihak laki-lakinya. Keluarga Aidan menceritakan bahwa keinginan itu juga akan dilakukan Aidan dua hari lagi untuk ke Lamongan mengkhitbah aku.
*****
Aku di rumah kakak ku yang dari tadi di dalam kamar. Aku sangat khwatir kalau maksud Ayah ke rumah a’a Aidan di tolak. Dalam kamar aku shalat hajat agar segala urusanku dilancarkan oleh Allah. Sekitar pukul 11 siang Ayah dan kakakku sudah pulang tapi aku tidak segera keluar kamar. Aku dipanggil sama Ibu untuk ke ruang keluarga untuk membicarakan soal lamaran itu. Dalam hati aku sangat gelisah tapi aku siap kalau lamaran itu ditolak oleh pihak keluarga a’a Aidan, karena aku juga masih kuliah. Tetapi aku sudah menata hati apabila lamaran itu ditolak. Ayah menceritakan kejadian selama Ayah di rumah a’a Aidan, dan pada saat itu keluarganya sangat terkejut dengan kedatangan Ayah karena dari keluarga a’a Aidan tidak pernah dengar jika ada dari pihak perempuan yang melamar duluan. Dari cerita Ayah semakin membuatku sangat deg-degan dan Ayah bilang kalau lamaran Ayah diterima oleh pihak a’a Aidan. Seketika aku langsung menangis dalam pelukan Ibuku karena masih belum percaya kalau lamaran itu diterima dari keluarga a’a Aidan dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan, tiga minggu lagi aku menikah dengan a’a Aidan. Aku masih tidak percaya bahwa aku baru tiga bulan mengenal a’a Aidan tapi dia akan menjadi suamiku. Tetapi aku yakin ini yang terbaik dan Allah sayang sama aku untuk menuntunku ke jalan yang benar, hubungan yang diridhoiNya. Dari kehidupanku ini aku yakin bahwa lamanya hubungan tidak menentukan bahwa itu yang terbaik untukku, tapi hal yang tidak diduga menjadi yang terbaik. Aku sangat bersyukur pada Allah sudah mengembalikanku ke jalanNya, menjadi muslimah yang sesungguhnya.

*The End*

@oktha_lestari

0 komentar:

Posting Komentar