Aku mulai beranjak remaja, ketika
itu aku masih duduk di bangku SMA, aku di sekolahkan oleh orang tuaku ke
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) nomer satu di daerahku. Saat itu aku masih tidak begitu mengerti
ajaran Agama Islam yang sebenarnya. Awal MAN saat aku masih kelas sepuluh, aku
terjerumus yang namanya pacaran karena aku tidak tahu bahwa pacaran sangat
dilarang oleh Allah dan hal tersebut juga sudah terdapat dalam Al-Qur’an tetapi
aku tidak menyadari hal tersebut. Saat aku kelas sebelas semester awal aku
putus dengan pacarku yang bernama Syarif, ia adalah salah satu kakak kelasku
yang satu jurusan denganku. Sangat berat ketika hal itu terjadi, bahkan aku
menangis karena putus dengan dia, dan aku sudah sangat nyaman bersamanya tapi
aku harus keluar dari hal yang dilarang oleh Allah itu. Semenjak hari putusnya
hubungan itu, bahkan ketika aku dan Syarif berpapasan di jalan, kita tidak
pernah menyapa, bahkan melihat satu sama lain pun tidak, semenjak itu kita
seperti tidak pernah mengenal. Ketika itu sahabat baikku yang bernama Elfi
mengetahui keadaan ini dan ia bertanya padaku ketika aku dan dia pulang
bersama.
“Ita, apa kamu
sama mas Syarif bertengkar? Sikap kalian tidak seperti biasanya” Tanya Elfi
padaku.
“kita tidak
bertengkar fi, tapi kita sudah putus kemarin” jawabku dengan menunduk.
“hah? Kenapa
kamu putus sama mas Syarif? Kenapa?“ Tanya Elfi dengan heran.
“mungkin ini
yang terbaik, dia harus fokus karena sudah mau ujian nasional, dan ini juga
terbaik untukku karena pacaran juga hal yang tidak baik, dan aku salah
melakukannya itu” jawabku dengan menahan air mata.
“hhmmm, aku
tahu itu sangat berat untukmu, tapi aku dukung selalu keputusanmu Ta, sudah tak
apa menangislah jika itu membuat hatimu lega” Elfi sambil memelukku.
Aku tidak bisa
berkata-kata lagi selain menangis dalam pelukan sahabatku.
“sudah cepat
sembuhkan lukamu itu, sudah jangan bersedih terlalu lama. Kamu ingat buku yang pernah aku pinjamkan ke kamu?” sambil menghapus air mataku.
“iya aku ingat fi”. Jawabku dengan
tertunduk.
“kamu baca lagi, kamu mantapkan
hatimu hanya untuk Allah sahabatku”. Ucap Elfi kepadaku.
*****
Beberapa bulan
aku jalani hari-hariku selalu mendekatkan diri padaNya. Mencari informasi
tentang ajaran agama yang sesungguhnya. Mengikuti pengajian-pengajian agama di
pondok pesantern maupun dalam majelis-majelis. Aku mempelajari ajaran agama baik
itu yang diperintahkan maupun larangan-larangannya. Aku mulai menghafalkan
Al-Qur’an dengan baik, dan secara tidak sengaja aku mengenal seorang yang sudah
Hafidz Qur’an dari Jawa Tengah, ia bernama Ahmad Mizan. Semenjak aku mengenal
dia, aku sangat semangat mempelajari agama, dan sedikit demi sedikit aku tekuni
itu dengan tulus. Aku sangat kagum dengan akhlaknya yang sangat shaleh dan ia
juga seorang pendakwah. Mungkin Allah kirimkan Mizan untuk jadi jalan hijrahku.
Tanpa aku sadari semenjak aku mengenal Mizan, ada keinganku untuk berhijrah
menjadi muslimah yang shalihah, mulai dari berpakaian yang syar’i dan berjanji
tidak berpacaran lagi. Tidak terasa aku mengenal dia, dan aku semakin memendam
rasa kagumku padanya meskipun aku dan dia jarang komunikasi secara langsung.
Saat pemilihan
pendaftaran untuk memilih Perguruan Tinggi, aku sangat bingung karena aku ingin
daftar ke salah satu Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Tengah tetapi orang tua
merasa keberatan karena itu jauh dari rumah, jadi aku memutuskan untuk daftar
di Jawa Timur sendiri. Alhamdulillah aku lolos di Perguruan Tinggi di Jawa Timur
yang masih berbasis Islamnya. Ketika itu, sebelum aku berangkat ke tempat
kuliahku, Ibuku berkata padaku
“Nduk, nanti
kalau kamu kuliah, jangan sampai kamu terpengaruh dengan islam-islam yang
sesat” kata Ibu padaku.
“Iya Bu, aku
mengerti apa yang Ibu katakan, Ibu jangan khawatir aku tersesat dengan islam
yang menyesatkan” jawabku pada Ibu.
Aku kuliah jauh
dari rumah meskipun masih di Jawa Timur, dan aku disana tinggal di sebuah
Ma’had. Keinginanku untuk berpakaian yang syar’i bisa terlaksana ketika aku
masuk kuliah karena ketika masih sekolah banyak hal yang sangat menghalangi
keinginanku, ketika aku mulai kuliah aku mulai berpakaian yang syar’i juga
berjilbab besar. Aku merasa beruntung dan disitulah aku sangat bahagia dengan
perubahanku ini, aku merasa sangat nyaman dengan diriku yang sekarang. Bahkan
banyak yang memanggilku dengan Ukhty bahkan banyak yang memanggilku dengan
Ustadzah, mungkin karena dengan cara berpakaianku yang serba longgar dan
panjang. Banyak yang mengira juga bahwa aku bukan orang Indonesia karena cara
berpakaianku seperti orang luar Negeri yang islamnya sangat kental. Aku hanya
tersenyum menanggapi penilaian orang terhadapku. Aku di sini mempunyai teman
yang dari luar Negeri ia bernama Nienda, ia memakai niqob. Saat itu aku hanya
mencoba untuk memakai niqob dan tak sengaja aku memasang fotoku dengan berniqob
di akunku karena aku sangat nyaman menggunakan niqob itu. Kemudian banyak teman
sekolahku dulu yang mengirim pesan padaku yang bertanya “sejak kapan kamu
menggunakan niqob? Mengapa kamu? Apa kamu mengikuti aliran yang sesat? Kamu
kenapa berubah menjadi ninja? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang
muncul untukku, tetapi aku tidak begitu menanggapi mereka karena aku tahu aku
tidak salah dan keinginanku untuk menggunakan niqob itu sangat kuat dalam diri,
tetapi aku masih tidak berani untuk menggunakan niqob, aku tidak siap
menghadapi orang tuaku dan lingkungan di keluargaku sangat membenci orang yang
berpakaian aneh apalagi memakai niqob, karena mereka beranggapan bahwa
menggunakan niqob adalah dia sudah tersesat. Aku menunda keinginanku itu dengan
selalu istiqomah menggunakan pakaina yang syar’i dan berjilbab besar.
*****
Perjalanan
hijrahku sangat sulit, banyak teman yang mengejekku dengan perubahanku ini.
Bahkan teman sekelas dulu, banyak yang tidak suka dengan perubahanku ini.
Ketika itu aku mengikuti halal bi halal yang dilakukan rutin setiap tahunnya
oleh satu kelas jurusankku dulu. Salah satu temanku bertanya padaku.
“Ita, kamu
berubah ya?” tanya dia dengan wajah sinis.
“aku berbah
dimananya Mad?” tanyaku dengan senyum.
“iya kamu
berubah, kesambet setan mana kamu?” dengan senyum nyengir.
“aku tidak
kesambet kok, mungkin aku sudah mendapatkan jalan yang baik untukku” jawabku
dengan santai.
“alahh begitu
ya, boleh aku cerita ke kamu Ta?” tanya Rahmad lagi padaku.
“iya apa Mad?”
jawabku padanya.
“di kampusku
nih ya, banyak tuh yang seperti kamu, yang menggunakan gamis longgar berjilbab
besar”. Ucap Rahmad padaku.
“lalu?”
tanggapanku.
“ya aku mikir
sih, kenapa gak sekalian pakai mukenah? kan sama saja lebarnya”. Ucapnya sambil
tertawa.
Aku tidak bisa
menjawabnya, karena aku tahu ia secara tidak langsung menyindirku dengan
ucapannya. Dan aku tidak mau menanggapinya, karena aku tahu ia tidak suka kalau
dia dibantah, apalagi denganku.
“risih sekali
lihat perempuan yang berpakaian seperti itu, seperti teroris yang menyimpan bom
dibalik jilbab besarnya, sok alim lagi”. Ucapnya lagi.
Aku tidak
menghiraukan dia, dan aku pergi dari tempat dudukku ke tempat lain. Karena aku
tidak mau Rahmad tahu bahwa aku menahan air mataku ketika ia berkata seperti
itu terhadapku. Dia akan semakin mengejekku bila ia tahu jika aku menangis
dihadapannya. Hijrahku ini sangat berat dan sulit, tapi aku mencoba untuk
selalu istiqomah dalam hijrahku, karena aku sudah menemukan cahaya terang dalam
perjalanan hijrahku ini, meskipun banyak yang tidak suka dengan perubahanku
ini, tetapi aku sangat nyaman dengan aku yang sekarang ini. Aku tidak
menghiraukan apa kata orang yang tidak suka denganku meskipun kata-katanya
sangat menyakiti hatiku.
Aku tidak tahu
Mizan tiba-tiba mengirim pesan kepadaku.
“aku tahu kamu
dalam kesulitan, banyak yang tidak menyukai perubahanmu kan? Ketahuilah Allah
tidak akan memberikan cobaan yang itu melampaui batas kemampuan umatnya. Jadi
kamu harus tetap sabar dan istiqomah dalam keadaanmu sekarang ini ya, hijrah
itu mudah tapi untuk istiqomah itu yang sulit. Tetap sabar ya saudariku Ita
jangan menyerah”
Ketika aku
membaca pesan itu, air mataku mengalir deras, aku sangat terharu karena masih
ada yang memberiku semangat dalam hal yang aku lakukan ini, perubahan yang
begitu sulit untukku, tapi aku percaya bahwa Allah akan menguatkanku selama
tekad dan niatku kuat untuk menjadi yang lebih baik lagi, aku yakin itu.
*****
Ketika aku sudah
semester akhir kuliah, aku dikirim ke luar Negeri untuk praktek kerja. Aku
dikirim ke Negara yang islamnya sangat kental. Aku sangat bersyukur dan orang
tuaku sangat mendukungku. Jadi, aku berangkat ke Negara itu dengan sangat
senang karena orang tuaku sangat mendukungku. Aku sangat merasakan kedamaian
hati, karena di Negara ini yang islamnya sangat kental, aku sangat nyaman jika
aku hidup disini, orang-orangnya sopan dan baik sekali terhadap orang baru. Aku
menyukai pemandangan orang sekitar yang cara berpakaiannya sangat muslim dan
muslimah yang sesuai dengan ajaran islam. Banyak juga muslimah yang memakai
niqob di sini, dan aku semakin ingin menggunakan niqob segera.
Satu minggu
berlalu, aku tidur di Negara orang, tetapi aku sangat nyaman dengan Negara ini
yang sudah seperti di Negaraku sendiri. Tepat satu minggu aku di sini, ketika
malam hari aku bermimpi aku berziarah ke makam Rasulullah bersama kakekku, dan
ketika aku selesai dari berziarah itu aku pergi dahulu meninggalkan kakekku
yang masih di makam, ketika itu aku berjalan sendirian entah kemana, dan aku
bertemu seseorang yang aku tidak kenal siapa, ia berkata padaku “anakku
tetaplah istiqomah dalam hijrahmu ini, perkuatlah niatmu jangan kau menyerah
dalam cobaan yang menggoyahkan niat baikmu untuk berhijrah, jika keinginan
baikkmu itu belum terpenuhi segerahlah laksanakan anakku, jangan kau
tunda-tunda lagi.” Seorang perempuan itu memelukku, dan tiba-tiba aku terbangun
tengah malam lalu aku langsung melakukan shalat istiqoroh untuk meminta petunjuk
apa aku harus menggunakan niqob apa tidak. Setelah itu, entah bagaimana hatiku
sangat mantap untuk menggunakan niqob. Beberapa hari kemudian aku menelfon
orang tuaku di Indonesia, aku menceritakan mimpiku itu, dan aku juga bercerita
bahwa aku melakukan shalat istiqoroh untuk memantapkan hatiku untuk memilih menggunakan
niqob apa tidak, aku juga menyampaikan kepada orang tuaku bahwa aku sudah
berkeinginan lama untuk menggunakan niqob. Jawaban dari orang tuaku begitu
mengejutkan aku, orang tuaku menyetujui jika aku menggunakan niqob. Seketika
aku langsung menangis bahwa aku mendapat dukungan penuh dari orang tuaku dalam
hijrahku ini.
Semenjak
kejadian itu aku selalu menggunakan niqob selalu dan istiqomah dalam jalan yang
sudah ditentukanNya. Aku sangat bersyukur bahwa hijrahku ini didukung penuh
oleh orang tuaku. Ketika masa praktek kerjaku berakhir aku kembali ke
Indonesia. Aku tetap memakai niqob hingga teman-temanku tidak mempercayai bahwa
hijrahku ini sungguh-sungguh dan kuat dengan ejekan teman-teman yang tidak suka
padaku. Tetapi aku bersyukur masih banyak yang suka denganku dan selalu
mendukung niat baik yang ku lakukan.
*****
Ketika wisuda kuliah,
kembali aku dikejutkan oleh orang tuaku. Orang tuaku datang di acara wisudaku
bersama orang tua Mizan sekaligus Mizan. Aku heran bagaimana bisa orang tuaku
mengenal mereka padahal aku belum cerita tentang Mizan ke orang tuaku. Setelah
acara wisuda selesai, orang tuaku menceritakan semuanya bahwa aku sudah di
khitbah oleh Mizan, dan orang tuaku menyetujuinya. Seketika aku langsung
menangis dalam pelukan Ibuku.
“mengapa bisa
langsung diterima khitbah dari Mizan? Padahal belum mendapat persetujuan dariku?”
tanyaku kepada Bapak dan Ibuku.
“karena Mizan
anak yang shaleh yang pas untukkmu nduk, Bapak dan Ibu yakin bahwa dia akan
membimbingmu ke jalan yang benar dan di RidhoiNya” jawab Bapak padaku.
Aku tidak bisa
berkata-kata lagi, karena perasaan haru bercampur senang. Sungguh aku masih tak
percaya bahwa Allah merencanakan jalan yang indah dalam hidupku. Aku sangat
bersyukur dengan semua ini. Aku bersyukur Allah memberikan hidayah untukku.
Hari-hariku lebih cerah dari sebelum aku berhijrah. Intinya dengan niat yang
baik dan tekad yang kuat, apapun cobaan yang menghalangi perjalanan hijrah
pasti akan diberi kemudahan oleh Allah. Aku berhijrah hanya karena Allah dan
Allah memberikan hadiah dari niat ikhlasku yaitu dipersatukan dengan Mizan
dalam ikatan yang halal, dia orang yang bertahun-tahun aku diam-diam
mengaguminya. Karena hijrah ini murni untuk mencari cahaya terang untuk hidupku
menjadi muslimah yang sudah dicontohkan oleh Putri Rasulullah SAW, dan aku
masih tidak percaya bahwa Allah sudah menyiapkan hadiah yang begitu besar atas
kesabaranku. Semoga tetap istiqomah di jalanNya. Aamiin.
*The End*
@oktha_lestari



0 komentar:
Posting Komentar