Kamis, 15 Februari 2018

Cahaya Hijrahku



Aku mulai beranjak remaja, ketika itu aku masih duduk di bangku SMA, aku di sekolahkan oleh orang tuaku ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) nomer satu di daerahku. Saat itu aku masih tidak begitu mengerti ajaran Agama Islam yang sebenarnya. Awal MAN saat aku masih kelas sepuluh, aku terjerumus yang namanya pacaran karena aku tidak tahu bahwa pacaran sangat dilarang oleh Allah dan hal tersebut juga sudah terdapat dalam Al-Qur’an tetapi aku tidak menyadari hal tersebut. Saat aku kelas sebelas semester awal aku putus dengan pacarku yang bernama Syarif, ia adalah salah satu kakak kelasku yang satu jurusan denganku. Sangat berat ketika hal itu terjadi, bahkan aku menangis karena putus dengan dia, dan aku sudah sangat nyaman bersamanya tapi aku harus keluar dari hal yang dilarang oleh Allah itu. Semenjak hari putusnya hubungan itu, bahkan ketika aku dan Syarif berpapasan di jalan, kita tidak pernah menyapa, bahkan melihat satu sama lain pun tidak, semenjak itu kita seperti tidak pernah mengenal. Ketika itu sahabat baikku yang bernama Elfi mengetahui keadaan ini dan ia bertanya padaku ketika aku dan dia pulang bersama.
“Ita, apa kamu sama mas Syarif bertengkar? Sikap kalian tidak seperti biasanya” Tanya Elfi padaku.
“kita tidak bertengkar fi, tapi kita sudah putus kemarin” jawabku dengan menunduk.
“hah? Kenapa kamu putus sama mas Syarif? Kenapa?“ Tanya Elfi dengan heran.
“mungkin ini yang terbaik, dia harus fokus karena sudah mau ujian nasional, dan ini juga terbaik untukku karena pacaran juga hal yang tidak baik, dan aku salah melakukannya itu” jawabku dengan menahan air mata.
“hhmmm, aku tahu itu sangat berat untukmu, tapi aku dukung selalu keputusanmu Ta, sudah tak apa menangislah jika itu membuat hatimu lega” Elfi sambil memelukku.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi selain menangis dalam pelukan sahabatku.
“sudah cepat sembuhkan lukamu itu, sudah jangan bersedih terlalu lama. Kamu ingat buku yang pernah aku pinjamkan ke kamu?” sambil menghapus air mataku.
“iya aku ingat fi”. Jawabku dengan tertunduk.
“kamu baca lagi, kamu mantapkan hatimu hanya untuk Allah sahabatku”. Ucap Elfi kepadaku.
*****
Beberapa bulan aku jalani hari-hariku selalu mendekatkan diri padaNya. Mencari informasi tentang ajaran agama yang sesungguhnya. Mengikuti pengajian-pengajian agama di pondok pesantern maupun dalam majelis-majelis. Aku mempelajari ajaran agama baik itu yang diperintahkan maupun larangan-larangannya. Aku mulai menghafalkan Al-Qur’an dengan baik, dan secara tidak sengaja aku mengenal seorang yang sudah Hafidz Qur’an dari Jawa Tengah, ia bernama Ahmad Mizan. Semenjak aku mengenal dia, aku sangat semangat mempelajari agama, dan sedikit demi sedikit aku tekuni itu dengan tulus. Aku sangat kagum dengan akhlaknya yang sangat shaleh dan ia juga seorang pendakwah. Mungkin Allah kirimkan Mizan untuk jadi jalan hijrahku. Tanpa aku sadari semenjak aku mengenal Mizan, ada keinganku untuk berhijrah menjadi muslimah yang shalihah, mulai dari berpakaian yang syar’i dan berjanji tidak berpacaran lagi. Tidak terasa aku mengenal dia, dan aku semakin memendam rasa kagumku padanya meskipun aku dan dia jarang komunikasi secara langsung.
Saat pemilihan pendaftaran untuk memilih Perguruan Tinggi, aku sangat bingung karena aku ingin daftar ke salah satu Perguruan Tinggi yang ada di Jawa Tengah tetapi orang tua merasa keberatan karena itu jauh dari rumah, jadi aku memutuskan untuk daftar di Jawa Timur sendiri. Alhamdulillah aku lolos di Perguruan Tinggi di Jawa Timur yang masih berbasis Islamnya. Ketika itu, sebelum aku berangkat ke tempat kuliahku, Ibuku berkata padaku
“Nduk, nanti kalau kamu kuliah, jangan sampai kamu terpengaruh dengan islam-islam yang sesat” kata Ibu padaku.
“Iya Bu, aku mengerti apa yang Ibu katakan, Ibu jangan khawatir aku tersesat dengan islam yang menyesatkan” jawabku pada Ibu.
Aku kuliah jauh dari rumah meskipun masih di Jawa Timur, dan aku disana tinggal di sebuah Ma’had. Keinginanku untuk berpakaian yang syar’i bisa terlaksana ketika aku masuk kuliah karena ketika masih sekolah banyak hal yang sangat menghalangi keinginanku, ketika aku mulai kuliah aku mulai berpakaian yang syar’i juga berjilbab besar. Aku merasa beruntung dan disitulah aku sangat bahagia dengan perubahanku ini, aku merasa sangat nyaman dengan diriku yang sekarang. Bahkan banyak yang memanggilku dengan Ukhty bahkan banyak yang memanggilku dengan Ustadzah, mungkin karena dengan cara berpakaianku yang serba longgar dan panjang. Banyak yang mengira juga bahwa aku bukan orang Indonesia karena cara berpakaianku seperti orang luar Negeri yang islamnya sangat kental. Aku hanya tersenyum menanggapi penilaian orang terhadapku. Aku di sini mempunyai teman yang dari luar Negeri ia bernama Nienda, ia memakai niqob. Saat itu aku hanya mencoba untuk memakai niqob dan tak sengaja aku memasang fotoku dengan berniqob di akunku karena aku sangat nyaman menggunakan niqob itu. Kemudian banyak teman sekolahku dulu yang mengirim pesan padaku yang bertanya “sejak kapan kamu menggunakan niqob? Mengapa kamu? Apa kamu mengikuti aliran yang sesat? Kamu kenapa berubah menjadi ninja? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul untukku, tetapi aku tidak begitu menanggapi mereka karena aku tahu aku tidak salah dan keinginanku untuk menggunakan niqob itu sangat kuat dalam diri, tetapi aku masih tidak berani untuk menggunakan niqob, aku tidak siap menghadapi orang tuaku dan lingkungan di keluargaku sangat membenci orang yang berpakaian aneh apalagi memakai niqob, karena mereka beranggapan bahwa menggunakan niqob adalah dia sudah tersesat. Aku menunda keinginanku itu dengan selalu istiqomah menggunakan pakaina yang syar’i dan berjilbab besar.
*****
Perjalanan hijrahku sangat sulit, banyak teman yang mengejekku dengan perubahanku ini. Bahkan teman sekelas dulu, banyak yang tidak suka dengan perubahanku ini. Ketika itu aku mengikuti halal bi halal yang dilakukan rutin setiap tahunnya oleh satu kelas jurusankku dulu. Salah satu temanku bertanya padaku.
“Ita, kamu berubah ya?” tanya dia dengan wajah sinis.
“aku berbah dimananya Mad?” tanyaku dengan senyum.
“iya kamu berubah, kesambet setan mana kamu?” dengan senyum nyengir.
“aku tidak kesambet kok, mungkin aku sudah mendapatkan jalan yang baik untukku” jawabku dengan santai.
“alahh begitu ya, boleh aku cerita ke kamu Ta?” tanya Rahmad lagi padaku.
“iya apa Mad?” jawabku padanya.
“di kampusku nih ya, banyak tuh yang seperti kamu, yang menggunakan gamis longgar berjilbab besar”. Ucap Rahmad padaku.
“lalu?” tanggapanku.
“ya aku mikir sih, kenapa gak sekalian pakai mukenah? kan sama saja lebarnya”. Ucapnya sambil tertawa.
Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku tahu ia secara tidak langsung menyindirku dengan ucapannya. Dan aku tidak mau menanggapinya, karena aku tahu ia tidak suka kalau dia dibantah, apalagi denganku.
“risih sekali lihat perempuan yang berpakaian seperti itu, seperti teroris yang menyimpan bom dibalik jilbab besarnya, sok alim lagi”. Ucapnya lagi.
Aku tidak menghiraukan dia, dan aku pergi dari tempat dudukku ke tempat lain. Karena aku tidak mau Rahmad tahu bahwa aku menahan air mataku ketika ia berkata seperti itu terhadapku. Dia akan semakin mengejekku bila ia tahu jika aku menangis dihadapannya. Hijrahku ini sangat berat dan sulit, tapi aku mencoba untuk selalu istiqomah dalam hijrahku, karena aku sudah menemukan cahaya terang dalam perjalanan hijrahku ini, meskipun banyak yang tidak suka dengan perubahanku ini, tetapi aku sangat nyaman dengan aku yang sekarang ini. Aku tidak menghiraukan apa kata orang yang tidak suka denganku meskipun kata-katanya sangat menyakiti hatiku.
Aku tidak tahu Mizan tiba-tiba mengirim pesan kepadaku.
“aku tahu kamu dalam kesulitan, banyak yang tidak menyukai perubahanmu kan? Ketahuilah Allah tidak akan memberikan cobaan yang itu melampaui batas kemampuan umatnya. Jadi kamu harus tetap sabar dan istiqomah dalam keadaanmu sekarang ini ya, hijrah itu mudah tapi untuk istiqomah itu yang sulit. Tetap sabar ya saudariku Ita jangan menyerah”
Ketika aku membaca pesan itu, air mataku mengalir deras, aku sangat terharu karena masih ada yang memberiku semangat dalam hal yang aku lakukan ini, perubahan yang begitu sulit untukku, tapi aku percaya bahwa Allah akan menguatkanku selama tekad dan niatku kuat untuk menjadi yang lebih baik lagi, aku yakin itu.
*****
Ketika aku sudah semester akhir kuliah, aku dikirim ke luar Negeri untuk praktek kerja. Aku dikirim ke Negara yang islamnya sangat kental. Aku sangat bersyukur dan orang tuaku sangat mendukungku. Jadi, aku berangkat ke Negara itu dengan sangat senang karena orang tuaku sangat mendukungku. Aku sangat merasakan kedamaian hati, karena di Negara ini yang islamnya sangat kental, aku sangat nyaman jika aku hidup disini, orang-orangnya sopan dan baik sekali terhadap orang baru. Aku menyukai pemandangan orang sekitar yang cara berpakaiannya sangat muslim dan muslimah yang sesuai dengan ajaran islam. Banyak juga muslimah yang memakai niqob di sini, dan aku semakin ingin menggunakan niqob segera.
Satu minggu berlalu, aku tidur di Negara orang, tetapi aku sangat nyaman dengan Negara ini yang sudah seperti di Negaraku sendiri. Tepat satu minggu aku di sini, ketika malam hari aku bermimpi aku berziarah ke makam Rasulullah bersama kakekku, dan ketika aku selesai dari berziarah itu aku pergi dahulu meninggalkan kakekku yang masih di makam, ketika itu aku berjalan sendirian entah kemana, dan aku bertemu seseorang yang aku tidak kenal siapa, ia berkata padaku “anakku tetaplah istiqomah dalam hijrahmu ini, perkuatlah niatmu jangan kau menyerah dalam cobaan yang menggoyahkan niat baikmu untuk berhijrah, jika keinginan baikkmu itu belum terpenuhi segerahlah laksanakan anakku, jangan kau tunda-tunda lagi.” Seorang perempuan itu memelukku, dan tiba-tiba aku terbangun tengah malam lalu aku langsung melakukan shalat istiqoroh untuk meminta petunjuk apa aku harus menggunakan niqob apa tidak. Setelah itu, entah bagaimana hatiku sangat mantap untuk menggunakan niqob. Beberapa hari kemudian aku menelfon orang tuaku di Indonesia, aku menceritakan mimpiku itu, dan aku juga bercerita bahwa aku melakukan shalat istiqoroh untuk memantapkan hatiku untuk memilih menggunakan niqob apa tidak, aku juga menyampaikan kepada orang tuaku bahwa aku sudah berkeinginan lama untuk menggunakan niqob. Jawaban dari orang tuaku begitu mengejutkan aku, orang tuaku menyetujui jika aku menggunakan niqob. Seketika aku langsung menangis bahwa aku mendapat dukungan penuh dari orang tuaku dalam hijrahku ini.
Semenjak kejadian itu aku selalu menggunakan niqob selalu dan istiqomah dalam jalan yang sudah ditentukanNya. Aku sangat bersyukur bahwa hijrahku ini didukung penuh oleh orang tuaku. Ketika masa praktek kerjaku berakhir aku kembali ke Indonesia. Aku tetap memakai niqob hingga teman-temanku tidak mempercayai bahwa hijrahku ini sungguh-sungguh dan kuat dengan ejekan teman-teman yang tidak suka padaku. Tetapi aku bersyukur masih banyak yang suka denganku dan selalu mendukung niat baik yang ku lakukan.
*****
Ketika wisuda kuliah, kembali aku dikejutkan oleh orang tuaku. Orang tuaku datang di acara wisudaku bersama orang tua Mizan sekaligus Mizan. Aku heran bagaimana bisa orang tuaku mengenal mereka padahal aku belum cerita tentang Mizan ke orang tuaku. Setelah acara wisuda selesai, orang tuaku menceritakan semuanya bahwa aku sudah di khitbah oleh Mizan, dan orang tuaku menyetujuinya. Seketika aku langsung menangis dalam pelukan Ibuku.
“mengapa bisa langsung diterima khitbah dari Mizan? Padahal belum mendapat persetujuan dariku?” tanyaku kepada Bapak dan Ibuku.
“karena Mizan anak yang shaleh yang pas untukkmu nduk, Bapak dan Ibu yakin bahwa dia akan membimbingmu ke jalan yang benar dan di RidhoiNya” jawab Bapak padaku.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, karena perasaan haru bercampur senang. Sungguh aku masih tak percaya bahwa Allah merencanakan jalan yang indah dalam hidupku. Aku sangat bersyukur dengan semua ini. Aku bersyukur Allah memberikan hidayah untukku. Hari-hariku lebih cerah dari sebelum aku berhijrah. Intinya dengan niat yang baik dan tekad yang kuat, apapun cobaan yang menghalangi perjalanan hijrah pasti akan diberi kemudahan oleh Allah. Aku berhijrah hanya karena Allah dan Allah memberikan hadiah dari niat ikhlasku yaitu dipersatukan dengan Mizan dalam ikatan yang halal, dia orang yang bertahun-tahun aku diam-diam mengaguminya. Karena hijrah ini murni untuk mencari cahaya terang untuk hidupku menjadi muslimah yang sudah dicontohkan oleh Putri Rasulullah SAW, dan aku masih tidak percaya bahwa Allah sudah menyiapkan hadiah yang begitu besar atas kesabaranku. Semoga tetap istiqomah di jalanNya. Aamiin.

*The End*

@oktha_lestari

0 komentar:

Posting Komentar