Sejak kecil aku bermimpi untuk
menjadi seorang dokter. Ketika aku lulus dari SMA aku melanjutkan ke perguruan
tinggi kedokteran di Surabaya dan keinginanku itu sangat didukung oleh kedua
orang tuaku. Tidak berapa lama setelah pengumuman masuk perguruan tinggi, aku
mengikuti Orientasi perguruan tinggi dalam kampusku. Ketika itu aku lagi duduk di taman kampus tiba-tiba
ada suara dari belakangku “boleh aku tahu nama kamu siapa?”. Dengan reflek
akupun menoleh ke belakang tepat di depan seorang laki-laki tinggi. Aku pun
hanya bisa diam bingung, dalam hati apa dia bicara ke aku apa orang lain.
“boleh aku tahu nama kamu siapa?” diulanginya dan dia menatapku.
“kamu bicara sama aku?” aku sambil
menunjuk diriku.
“iya kamu lah siapa lagi” dengan
senyum tipis.
“oh, namaku bintang” dengan senyum
tipis.
“bintang? Namaku Abram” dia
tersenyum padaku dan langsung duduk di sebelahku.
Aku hanya diam tanpa memulai
berbicara pada dia.
“kamu mahasiswa baru ya? Jurusan
apa?” Tanya dia pelan.
“iya aku mahasiswa baru jurusan
kedokteran, kamu sepertinya bukan mahasiswa baru ya?” ucapku.
“iya saya bukan mahasiswa baru, saya
sudah semester 5 jurusan kedokteran juga”. Jawab Abram
“sudah ya mas aku mau pulang dulu” kataku sambil berdiri
dari tempat duduk.
“oh iya
silahkan dik” Abram berkata sambil berdiri juga
*****
Setelah Orientasi kampus selesai aku pulang ke rumah lagi sebelum kuliah aktif. Beberapa
hari aku di rumah, orang tua ku tiba-tiba mengajakku bicara serius di ruang
tamu.
“dek kamu
kuliah saja yang bener jangan pacaran, nanti pasti kamu bertemu jodohmu sendiri
dek” ucap Bunda padaku.
“iih bunda
apaan sih, kuliah saja belum sudah ngomongin jodoh” jawabku asal
“kamu itu dek
dibilangin bunda malah ngeyel” sahut Mas
ku Andi.
“siapa juga sih
mas yang ngeyel sama Bunda, bener kan aku kuliah saja belum sudah bicarain
jodoh” dengan nada sewot.
Emang suka
banget Mas Andi suka jahilin adek satu-satunya ini, sampai istrinya sering
cemburu karena melihat tingkahku ke Mas Andi kalau lagi manja atau lagi di
jahilin sama Mas Andi.
“sudah-sudah
kalian ini mulai deh” tegur Ayah padaku dan Mas Andi.
“iya ini
kalian, Bin ingat pesan Bunda ya” ucap Bunda padaku.
“iya Bunda
sayang, bintang nggak bakal pacaran dulu kok” jawabku sambil nyelonong ke kamar
karena aku tidak mau orang tuaku bicara masalah jodoh.
Satu minggu
kemudian tepat hari minggu aku berangkat ke Surabaya untuk mulai kuliah.
Keesokan harinya aku menjalani kuliah pada umumnya, kuliah pertama semua
lancar. Beberapa hari kemudian aku tidak sengaja bertemu dengan Abram di
kantin. Ketika itu aku dan dia sedang membayar makan siang.
“eh kamu Bin,
tidak disangka ya kita bertemu lagi di sini” sapa Abram padaku.
“Mas Abram, Iya
mas” jawabku dengan senyum kecil sambil meninggalkan Mas Abram.
“Bin tunggu dulu,
buru-buru amat” teriak Abram.
“Iya mas, lagi
mau ke perpustakaan baca-baca buku” jawabku.
“mau aku
temanin ke sana Bin?” tanya Abram.
“Apa mas tidak
sibuk?” tanyaku.
“aku sudah
tidak ada jam lagi Bin, boleh kan?” ucap Abram padaku.
“boleh mas
boleh” jawabku gugup.
Sepanjang jalan
sampai ke perpustakaan, kami hanya diam dan terus berjalan ke arah perpus yang
tidak jauh dari kantin. setiba di depan perpustakaan aku memberanikan diri
untuk berbicara pada Mas Abram.
“mas, aku cari
buku dulu ya?” tanya ku pada Mas Abram.
“oh iya Bin,
silahkan, aku juga mau cari buku” jawabnya sambil tersenyum.
Tidak lama
kemudian aku sudah menemukan buku yang ku cari dan aku mencari tempat duduk
yang kosong. Aku rasa semua tempat sudah terpenuhi, dari tempat duduk sebelah
jendela, ada lambaian tangan yang mengarah padaku, ternyata itu Mas Abram. Aku
menuju mas Abram yang duduk di sebelah jendela, tenyata di sebelahnya masih ada
tempat yang kosong.
“bagaimana udah
dapat bukunya Bin?” tanya Mas Abram
“sudah mas,
kalau belum ya nggak cari tempat duduk lah” jawabku dengan tersenyum.
“hehe iya ya,
ya sudah duduk sini” ucap Abram sambil menunjuk kursi kosong sebelahnya.
“terima kasih
mas” jawabku dan aku langsung membuka buku yang ku bawa.
Mahasiswa lain
yang memandang aku dan Mas Abram mengisyaratkan bahwa tidak boleh ramai di
dalam perpustakaan.
Tiba-tiba Mas
Abram memberiku sebuah kertas yang sudah terlipat. Aku hanya mengangkat alisku
pada Mas Abram karena bingung, apa maksudnya. Kemudian aku membuka lipatan
kertas itu dan di dalam kertas itu tertuliskan “Bin, boleh aku minta nomer hp
kamu?”. Langsung aku balas kertas itu dan aku menulisan nomer hpku. Kertas itu
aku berikan ke Mas Abram. Tidak lama Mas Abram berdiri dari tempat duduknya dan
bicara tepat di telingaku “maaf Bin aku duluan ya karena tiba-tiba ada
panggilan untuk rapat” bisik Mas Abram padaku. Aku hanya mengangguk dan
melanjutkan membaca buku.
****
Semakin hari
aku dengan Mas Abram menjadi semakin dekat. Dia sangat perhatian padaku, jika
aku kesulitan dalam pelajaran, dia selalu membantuku meskipun dia sendiri sibuk
tapi dia menyempatkan untuk membantuku selalu. Panggilannya kepadaku sudah
tidak “Bin” lagi tetapi “dek Bin”. Aku sih lebih nyaman ketika dia memanggilku
pakai “dek” daripada langsung “Bin”. Tepat setahun aku mengenal Mas Abram,
ketika itu dia mengajakku makan malam di sebuah retoran. Pada waktu itu Mas
Abram nembak aku, dia ingin aku menjadi pacarnya. Entah bisikan dari mana aku
langsung menerima Mas Abram menjadi pacarku, mungkin aku sudah terlalu nyaman sama
dia.
Hari demi hari
terlewati sampai Mas Abram wisuda kedokteran dan orang tuaku tidak mengetahui
bahwa aku kuliah sambil pacaran tapi nilai-nilaiku tidak ada yang turun, jadi
orang tuaku tidak curiga kepadaku. Ketika itu aku masih semester 5, sangat sibuk
dengan praktikum-praktikum, meski dengan kesibukanku Mas Abram mengerti dan
tidak pernah menuntut apa-apa dariku. Hubunganku dengan Mas Abram sampai aku
wisuda kedokteran. Sampai aku wisuda tidak berani bicara pada orang tuaku bahwa
mempunyai pacar sejak lama. Aku diam tanpa orang tua dan Masku tidak tahu soal
itu.
*****
Tiga tahun
kemudian, aku sudah menjadi seorang dokter yang ditugaskan ke Rumah Sakit di
Bandung tetapi Mas Abram menjadi dokter di Rumah Sakit Surabaya. Aku sangat
sedih jauh dari Mas Abram, menjalin hubungan jarak jauh. Setiba di rumah aku
bicara dengan orang tuaku bahwa aku di pindahkan ke Rumah Sakit yang ada di
Bandung.
“Yah, Bun, aku
di tugaskan di Rumah Sakit yang ada di Bandung” ucapku sambil cemberut.
“di mana dek,
Bandung?” tanya Ayah.
“iya yah, di
Bandung” jawabku dengan lemas sambil bersandar di kursi.
“loh, kenapa
Bin kamu malah sedih begitu?” tanya Bunda padaku.
“terlalu jauh
Bunda” jawabku.
“tidak apa-apa
dek, nanti di sana dekat sama calon suami kamu” ucap Ayah padaku.
“apa Yah? Calon
suami? Siapa?” tanyaku dengan kaget.
“Iya dek, calon
suamimu kan ada di Bandung, dia seorang Ustad” jawab Bunda.
“Bintang nggak
salah dengar apa, calon suami siapa?” tanyaku dengan nada keras.
“kamu Ayah
jodohin dengan anak sahabat Ayah yang di Bandung dek” jawab Ayah.
“apa Yah?
Bintang di jodohin?” tanyaku dengan nada semakin keras.
“Iya kamu Ayah
jodohin, kamu tidak boleh nolak permintaan Ayah kali ini, selama ini Ayah sudah
nurutin apa mau kamu, jadi kamu harus nurut Ayah sama Bunda kali ini” jawab
Ayah.
“Bintang nggak
mau di jodohin Yah, Bintang udah punya pacar sendiri, Bintang nggak mau!!”
bentakku pada Ayah.
“apa kamu
pacaran Bin?, Bunda kan sudah sering kali bilang jangan sampai pacaran, kenapa
kamu tidak peduli sama ucapan Bunda?” tanya bunda dengan nada sedikit keras.
“Bun, Bintang
bukan anak kecil lagi yang harus nuruti omongan Bunda sama Ayah, pokoknya
Bintang tidak mau di jodohkan apalagi dengan orang yang tidak Bintang kenal”
ucapku.
“kamu harus
putus dengan pacar kamu Bin, kenapa kamu memilih jalan yang salah sih Bin,
Bunda sudah bilang berkali-kali kalau kamu itu tidak boleh pacaran”. Ucap Bunda
padaku.
“mau tidak mau,
kamu harus menikah dengan Ustad Syarif itu, Ayah sama Bunda hanya memberi kamu
izin dengan Syarif” ucap Ayah padaku.
“tapi Yah, aku
sudah punya pacar di Surabaya namanya Mas Abram, dia juga dokter” ucapku masih
menentang Ayah.
“sudah, minggu
depan Ayah sama Bunda yang mengantar kamu ke Bandung, Ayah sama Bunda sudah
membeli rumah di Bandung, jadi sekalian kita pindah ke sana” ucap Ayah dengan
tegas.
“kenapa
buru-buru sih Yah, Ayah tidak adil sama Bintang” aku berkata sambil menangis.
“kamu harus
nurut sama Ayah, ini juga demi kebaikan kamu dek, Ayah juga sudah sangat
mengenal keluarga Syarif, dia pasti bisa membimbingmu, sedangkan pacarmu, Ayah
tidak tau dia baik apa tidak sama kamu” ucap Ayah.
“tapi Bintang
tidak cinta sama dia Ayah, bintang juga tidak kenal, pokoknya Bintang nggak mau
menikah dengan dia Ayah Bunda” bentakku kepada orang tuaku, sambil aku masuk ke
kamar.
Seharian aku
menangis dalam kamar. Aku memberontak pada orang tuaku agar aku tidak
dijodohkan kepada orang yang nggk aku kenal. Karena aku hanya ingin menikah
dengan Mas Abram pacarku selama kuliah. Pada hari minggu aku bohong ke orang
tuaku meminta izin mau pergi ke rumah
sakit tempat kerja lamaku untuk mengurusi berkas-berkas, padahal aku mau
janjian bertemu dengan Mas Abram. Kita janjian di kaffe dekat Gereja, aku
berjalan melewati gereja menuju kaffe, tidak sengaja aku melihat Mas Abram
masuk dalam Gereja. Aku mencari tahu apa itu benar dia apa tidak dan ternyata
itu benar Mas Abram. Dia keluar dari gereja dan sampai di gerbang luar gerja
aku menghampiri dia.
“mas kenapa
kamu dari dalam Gereja?” tanyaku dengan bingung dan takut.
“eem anu Dek, enggak.
Udah lama nunggu ya?” ucap Mas Abram padaku dengan mengganti topik pembicaraan.
“Mas, aku tanya
kenapa kamu dari dalam gereja?” tanyaku dengan memandang Mas Abram.
Mas Abram
bingung mau berkata apa padaku. “aku bisa jelasin Dek, kamu jangan marah dulu
ya?” dengan muka sedih.
“mas
jangan-jangan kamu.... jangan-jangan kamu Kristen ya?” tanyaku dengan gugup.
“iya Dek, aku
kristen, maaf baru bisa bilang kamu sekarang”. Jawab Mas Abram sambil memegang
tanganku.
“lepas mas”
sambil aku mengibaskan tangannya padaku. “Mas kenapa tidak jujur dari dulu
kalau kita beda Agama?” aku sambil menahan air mata.
“maaf Dek aku
tidak siap bilang ke kamu” sambil menatapku.
“Mas, aku hari
ini mau minta kamu bertemu orang tuaku untuk melamarku agar aku tidak di
jodohkan dengan orang yang nggk aku kenal, tapi kamu bisa-bisanya nggak jujur
padaku selama bertahun-tahun, kamu tega ya sama aku” ucapku sambil menangis.
“tolong Dek
kamu maafin aku” ucap Mas Abram.
“mas, ini sudah
kelewatan kamu, aku mau kita putus saja, aku sangat kecewa sama kamu, kamu udah
bohongin aku bertahun-tahun” ucapku sambil mengusap air mataku dan aku langsung
pergi.
Setiba di rumah
aku langsung menangis dalam pelukan Bunda. Menangis dengan keras. Bunda dan
Ayah bingung melihat aku pulang-pulang langsung menangis seperti itu. Bunda dan
Ayah tidak bertanya padaku langsung, Bunda hanya memelukku dan menggusap
kepalaku.
“Ayah, Bunda,
Bintang minta maaf sama Ayah dan Bunda, Bintang sudah durhaka sama kalian,
tidak mau nurut sama omongan kalian, Bintang sangat menyesal Yah, Bun”. Ucapku
dengan isak tangis.
“kamu kenapa
sih Dek, tiba-tiba nangis begini?”. Tanya Bunda dengan bingung.
“Iya kamu
kenaoa Dek, jangan buat Ayah dan Bunda bingung begini”. Ucap Ayah penasaran.
“Bintang sudah
durhaka sama Ayah dan Bunda, Bintang tidak boleh pacaran tapi Bintang malah
pacaran, kemarin-kemarin juga sudah bentak-bentak Ayah dan Bunda”. Ucapku
dengan menangis.
Ayah dan Bunda
semakin bingung dan khawatir melihatku menangis dan minta maaf. Sedikit demi
sedikit aku menceritakan apa yang telah terjadi padaku bahwa pacarku sudah
berbohong sudah lama kalau dia dan aku beda agama.
*****
Beberapa hari
kemudian aku dan orang tuaku pindah ke Bandung, sementara Mas Andi tinggal di
Malang dengan istri dan anakknya. Meskipun dengan berat hati aku pindah ke
Bandung dan itu artinya aku harus mau menikah dengan Syarif seorang Ustad yang
sudah dijodohkan padaku. Tiga bulan kemudian aku akan melaksanakan akad nikah
dengan Syarif. Sebelum akad nikah di rumahku diadakan pengajian, seorang Kiyai
berkata “Kedua orang tua adalah dua pintu menuju surga, yang kita dapat
menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang, maka janganlah kita membantah
apa yang mereka perintahkan, jangan pula durhaka kepada mereka, jika itu kita
lakukan, maka jangan harap kita bisa mencium bau harumnya surga, apabila itu
kita lakukan, segeralah meminta maaf dengan tulus kepada kedua orang tua kita”.
Dengan ucapan itu aku menjadi sadar bahwa aku selama ini sudah sangat durhaka
sama kedua orang tua ku. Sungguh aku sangat menyesal sudah menghiraukan pesan
orang tua terhadapku.
Keesokan
harinya akad nikahku dengan Syarif berjalan dengan lancar. Ku lihat orang tuaku
menangis haru bercampur senang dengan apa yang terjadi ini. Aku menyadari bahwa
suamiku adalah orang yang sangat baik, ilmu agamanya sangat tinggi, aku
sekarang sangat percaya bahwa pilihan orang tua itu tidak pernah salah untuk
anak-anaknya, karena orang tua hanya ingin anaknya dalam jalan yang baik dan
bahagia. Aku sangat berterima kasih kepada orang tuaku sudah menjodohkanku
dengan orang yang tepat dan baik untuk hidupku. Aku juga sangat berterima kasih
kepada Allah sudah memberiku hidayah dan memberiku kesempatan masih bisa
membahagiakan orang tuaku. Aku selalu berdoa kepadaNya agar aku selalu
diberikan rizki untuk berbakti kepada kedua orang tuaku dan kedua orang tua
suamiku, dan agar aku dikumpulkan dengan mereka di surgaMu yang penuh
kenikmatan. Aamiin.
*The End*
@oktha_lestari



0 komentar:
Posting Komentar