Kamis, 15 Februari 2018

Jalanmu Menuju Surgaku



Sejak kecil aku bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Ketika aku lulus dari SMA aku melanjutkan ke perguruan tinggi kedokteran di Surabaya dan keinginanku itu sangat didukung oleh kedua orang tuaku. Tidak berapa lama setelah pengumuman masuk perguruan tinggi, aku mengikuti Orientasi perguruan tinggi dalam kampusku. Ketika  itu aku lagi duduk di taman kampus tiba-tiba ada suara dari belakangku “boleh aku tahu nama kamu siapa?”. Dengan reflek akupun menoleh ke belakang tepat di depan seorang laki-laki tinggi. Aku pun hanya bisa diam bingung, dalam hati apa dia bicara ke aku apa orang lain. “boleh aku tahu nama kamu siapa?” diulanginya dan dia menatapku.
“kamu bicara sama aku?” aku sambil menunjuk diriku.
“iya kamu lah siapa lagi” dengan senyum tipis.
“oh, namaku bintang” dengan senyum tipis.
“bintang? Namaku Abram” dia tersenyum padaku dan langsung duduk di sebelahku.
Aku hanya diam tanpa memulai berbicara pada dia.
“kamu mahasiswa baru ya? Jurusan apa?” Tanya dia pelan.
“iya aku mahasiswa baru jurusan kedokteran, kamu sepertinya bukan mahasiswa baru ya?” ucapku.
“iya saya bukan mahasiswa baru, saya sudah semester 5 jurusan kedokteran juga”. Jawab Abram
“sudah ya mas aku mau pulang dulu” kataku sambil berdiri dari tempat duduk.
“oh iya silahkan dik” Abram berkata sambil berdiri juga
*****
Setelah Orientasi kampus selesai aku pulang ke rumah lagi sebelum kuliah aktif. Beberapa hari aku di rumah, orang tua ku tiba-tiba mengajakku bicara serius di ruang tamu.
“dek kamu kuliah saja yang bener jangan pacaran, nanti pasti kamu bertemu jodohmu sendiri dek” ucap Bunda padaku.
“iih bunda apaan sih, kuliah saja belum sudah ngomongin jodoh” jawabku asal
“kamu itu dek dibilangin bunda malah ngeyel” sahut Mas  ku Andi.
“siapa juga sih mas yang ngeyel sama Bunda, bener kan aku kuliah saja belum sudah bicarain jodoh” dengan nada sewot.
Emang suka banget Mas Andi suka jahilin adek satu-satunya ini, sampai istrinya sering cemburu karena melihat tingkahku ke Mas Andi kalau lagi manja atau lagi di jahilin sama Mas Andi.
“sudah-sudah kalian ini mulai deh” tegur Ayah padaku dan Mas Andi.
“iya ini kalian, Bin ingat pesan Bunda ya” ucap Bunda padaku.
“iya Bunda sayang, bintang nggak bakal pacaran dulu kok” jawabku sambil nyelonong ke kamar karena aku tidak mau orang tuaku bicara masalah jodoh.
Satu minggu kemudian tepat hari minggu aku berangkat ke Surabaya untuk mulai kuliah. Keesokan harinya aku menjalani kuliah pada umumnya, kuliah pertama semua lancar. Beberapa hari kemudian aku tidak sengaja bertemu dengan Abram di kantin. Ketika itu aku dan dia sedang membayar makan siang.
“eh kamu Bin, tidak disangka ya kita bertemu lagi di sini” sapa Abram padaku.
“Mas Abram, Iya mas” jawabku dengan senyum kecil sambil meninggalkan Mas Abram.
“Bin tunggu dulu, buru-buru amat” teriak Abram.
“Iya mas, lagi mau ke perpustakaan baca-baca buku” jawabku.
“mau aku temanin ke sana Bin?” tanya Abram.
“Apa mas tidak sibuk?” tanyaku.
“aku sudah tidak ada jam lagi Bin, boleh kan?” ucap Abram padaku.
“boleh mas boleh” jawabku gugup.
Sepanjang jalan sampai ke perpustakaan, kami hanya diam dan terus berjalan ke arah perpus yang tidak jauh dari kantin. setiba di depan perpustakaan aku memberanikan diri untuk berbicara pada Mas Abram.
“mas, aku cari buku dulu ya?” tanya ku pada Mas Abram.
“oh iya Bin, silahkan, aku juga mau cari buku” jawabnya sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian aku sudah menemukan buku yang ku cari dan aku mencari tempat duduk yang kosong. Aku rasa semua tempat sudah terpenuhi, dari tempat duduk sebelah jendela, ada lambaian tangan yang mengarah padaku, ternyata itu Mas Abram. Aku menuju mas Abram yang duduk di sebelah jendela, tenyata di sebelahnya masih ada tempat yang kosong.
“bagaimana udah dapat bukunya Bin?” tanya Mas Abram
“sudah mas, kalau belum ya nggak cari tempat duduk lah” jawabku dengan tersenyum.
“hehe iya ya, ya sudah duduk sini” ucap Abram sambil menunjuk kursi kosong sebelahnya.
“terima kasih mas” jawabku dan aku langsung membuka buku yang ku bawa.
Mahasiswa lain yang memandang aku dan Mas Abram mengisyaratkan bahwa tidak boleh ramai di dalam perpustakaan.
Tiba-tiba Mas Abram memberiku sebuah kertas yang sudah terlipat. Aku hanya mengangkat alisku pada Mas Abram karena bingung, apa maksudnya. Kemudian aku membuka lipatan kertas itu dan di dalam kertas itu tertuliskan “Bin, boleh aku minta nomer hp kamu?”. Langsung aku balas kertas itu dan aku menulisan nomer hpku. Kertas itu aku berikan ke Mas Abram. Tidak lama Mas Abram berdiri dari tempat duduknya dan bicara tepat di telingaku “maaf Bin aku duluan ya karena tiba-tiba ada panggilan untuk rapat” bisik Mas Abram padaku. Aku hanya mengangguk dan melanjutkan membaca buku.
****
Semakin hari aku dengan Mas Abram menjadi semakin dekat. Dia sangat perhatian padaku, jika aku kesulitan dalam pelajaran, dia selalu membantuku meskipun dia sendiri sibuk tapi dia menyempatkan untuk membantuku selalu. Panggilannya kepadaku sudah tidak “Bin” lagi tetapi “dek Bin”. Aku sih lebih nyaman ketika dia memanggilku pakai “dek” daripada langsung “Bin”. Tepat setahun aku mengenal Mas Abram, ketika itu dia mengajakku makan malam di sebuah retoran. Pada waktu itu Mas Abram nembak aku, dia ingin aku menjadi pacarnya. Entah bisikan dari mana aku langsung menerima Mas Abram menjadi pacarku, mungkin aku sudah terlalu nyaman sama dia.
Hari demi hari terlewati sampai Mas Abram wisuda kedokteran dan orang tuaku tidak mengetahui bahwa aku kuliah sambil pacaran tapi nilai-nilaiku tidak ada yang turun, jadi orang tuaku tidak curiga kepadaku. Ketika itu aku masih semester 5, sangat sibuk dengan praktikum-praktikum, meski dengan kesibukanku Mas Abram mengerti dan tidak pernah menuntut apa-apa dariku. Hubunganku dengan Mas Abram sampai aku wisuda kedokteran. Sampai aku wisuda tidak berani bicara pada orang tuaku bahwa mempunyai pacar sejak lama. Aku diam tanpa orang tua dan Masku tidak tahu soal itu.
*****
Tiga tahun kemudian, aku sudah menjadi seorang dokter yang ditugaskan ke Rumah Sakit di Bandung tetapi Mas Abram menjadi dokter di Rumah Sakit Surabaya. Aku sangat sedih jauh dari Mas Abram, menjalin hubungan jarak jauh. Setiba di rumah aku bicara dengan orang tuaku bahwa aku di pindahkan ke Rumah Sakit yang ada di Bandung.
“Yah, Bun, aku di tugaskan di Rumah Sakit yang ada di Bandung” ucapku sambil cemberut.
“di mana dek, Bandung?” tanya Ayah.
“iya yah, di Bandung” jawabku dengan lemas sambil bersandar di kursi.
“loh, kenapa Bin kamu malah sedih begitu?” tanya Bunda padaku.
“terlalu jauh Bunda” jawabku.
“tidak apa-apa dek, nanti di sana dekat sama calon suami kamu” ucap Ayah padaku.
“apa Yah? Calon suami? Siapa?” tanyaku dengan kaget.
“Iya dek, calon suamimu kan ada di Bandung, dia seorang Ustad” jawab Bunda.
“Bintang nggak salah dengar apa, calon suami siapa?” tanyaku dengan nada keras.
“kamu Ayah jodohin dengan anak sahabat Ayah yang di Bandung dek” jawab Ayah.
“apa Yah? Bintang di jodohin?” tanyaku dengan nada semakin keras.
“Iya kamu Ayah jodohin, kamu tidak boleh nolak permintaan Ayah kali ini, selama ini Ayah sudah nurutin apa mau kamu, jadi kamu harus nurut Ayah sama Bunda kali ini” jawab Ayah.
“Bintang nggak mau di jodohin Yah, Bintang udah punya pacar sendiri, Bintang nggak mau!!” bentakku pada Ayah.
“apa kamu pacaran Bin?, Bunda kan sudah sering kali bilang jangan sampai pacaran, kenapa kamu tidak peduli sama ucapan Bunda?” tanya bunda dengan nada sedikit keras.
“Bun, Bintang bukan anak kecil lagi yang harus nuruti omongan Bunda sama Ayah, pokoknya Bintang tidak mau di jodohkan apalagi dengan orang yang tidak Bintang kenal” ucapku.
“kamu harus putus dengan pacar kamu Bin, kenapa kamu memilih jalan yang salah sih Bin, Bunda sudah bilang berkali-kali kalau kamu itu tidak boleh pacaran”. Ucap Bunda padaku.
“mau tidak mau, kamu harus menikah dengan Ustad Syarif itu, Ayah sama Bunda hanya memberi kamu izin dengan Syarif” ucap Ayah padaku.
“tapi Yah, aku sudah punya pacar di Surabaya namanya Mas Abram, dia juga dokter” ucapku masih menentang Ayah.
“sudah, minggu depan Ayah sama Bunda yang mengantar kamu ke Bandung, Ayah sama Bunda sudah membeli rumah di Bandung, jadi sekalian kita pindah ke sana” ucap Ayah dengan tegas.
“kenapa buru-buru sih Yah, Ayah tidak adil sama Bintang” aku berkata sambil menangis.
“kamu harus nurut sama Ayah, ini juga demi kebaikan kamu dek, Ayah juga sudah sangat mengenal keluarga Syarif, dia pasti bisa membimbingmu, sedangkan pacarmu, Ayah tidak tau dia baik apa tidak sama kamu” ucap Ayah.
“tapi Bintang tidak cinta sama dia Ayah, bintang juga tidak kenal, pokoknya Bintang nggak mau menikah dengan dia Ayah Bunda” bentakku kepada orang tuaku, sambil aku masuk ke kamar.
Seharian aku menangis dalam kamar. Aku memberontak pada orang tuaku agar aku tidak dijodohkan kepada orang yang nggk aku kenal. Karena aku hanya ingin menikah dengan Mas Abram pacarku selama kuliah. Pada hari minggu aku bohong ke orang tuaku meminta izin  mau pergi ke rumah sakit tempat kerja lamaku untuk mengurusi berkas-berkas, padahal aku mau janjian bertemu dengan Mas Abram. Kita janjian di kaffe dekat Gereja, aku berjalan melewati gereja menuju kaffe, tidak sengaja aku melihat Mas Abram masuk dalam Gereja. Aku mencari tahu apa itu benar dia apa tidak dan ternyata itu benar Mas Abram. Dia keluar dari gereja dan sampai di gerbang luar gerja aku menghampiri dia.
“mas kenapa kamu dari dalam Gereja?” tanyaku dengan bingung dan takut.
“eem anu Dek, enggak. Udah lama nunggu ya?” ucap Mas Abram padaku dengan mengganti topik pembicaraan.
“Mas, aku tanya kenapa kamu dari dalam gereja?” tanyaku dengan memandang Mas Abram.
Mas Abram bingung mau berkata apa padaku. “aku bisa jelasin Dek, kamu jangan marah dulu ya?” dengan muka sedih.
“mas jangan-jangan kamu.... jangan-jangan kamu Kristen ya?” tanyaku dengan gugup.
“iya Dek, aku kristen, maaf baru bisa bilang kamu sekarang”. Jawab Mas Abram sambil memegang tanganku.
“lepas mas” sambil aku mengibaskan tangannya padaku. “Mas kenapa tidak jujur dari dulu kalau kita beda Agama?” aku sambil menahan air mata.
“maaf Dek aku tidak siap bilang ke kamu” sambil menatapku.
“Mas, aku hari ini mau minta kamu bertemu orang tuaku untuk melamarku agar aku tidak di jodohkan dengan orang yang nggk aku kenal, tapi kamu bisa-bisanya nggak jujur padaku selama bertahun-tahun, kamu tega ya sama aku” ucapku sambil menangis.
“tolong Dek kamu maafin aku” ucap Mas Abram.
“mas, ini sudah kelewatan kamu, aku mau kita putus saja, aku sangat kecewa sama kamu, kamu udah bohongin aku bertahun-tahun” ucapku sambil mengusap air mataku dan aku langsung pergi.
Setiba di rumah aku langsung menangis dalam pelukan Bunda. Menangis dengan keras. Bunda dan Ayah bingung melihat aku pulang-pulang langsung menangis seperti itu. Bunda dan Ayah tidak bertanya padaku langsung, Bunda hanya memelukku dan menggusap kepalaku.
“Ayah, Bunda, Bintang minta maaf sama Ayah dan Bunda, Bintang sudah durhaka sama kalian, tidak mau nurut sama omongan kalian, Bintang sangat menyesal Yah, Bun”. Ucapku dengan isak tangis.
“kamu kenapa sih Dek, tiba-tiba nangis begini?”. Tanya Bunda dengan bingung.
“Iya kamu kenaoa Dek, jangan buat Ayah dan Bunda bingung begini”. Ucap Ayah penasaran.
“Bintang sudah durhaka sama Ayah dan Bunda, Bintang tidak boleh pacaran tapi Bintang malah pacaran, kemarin-kemarin juga sudah bentak-bentak Ayah dan Bunda”. Ucapku dengan menangis.
Ayah dan Bunda semakin bingung dan khawatir melihatku menangis dan minta maaf. Sedikit demi sedikit aku menceritakan apa yang telah terjadi padaku bahwa pacarku sudah berbohong sudah lama kalau dia dan aku beda agama.
*****
Beberapa hari kemudian aku dan orang tuaku pindah ke Bandung, sementara Mas Andi tinggal di Malang dengan istri dan anakknya. Meskipun dengan berat hati aku pindah ke Bandung dan itu artinya aku harus mau menikah dengan Syarif seorang Ustad yang sudah dijodohkan padaku. Tiga bulan kemudian aku akan melaksanakan akad nikah dengan Syarif. Sebelum akad nikah di rumahku diadakan pengajian, seorang Kiyai berkata “Kedua orang tua adalah dua pintu menuju surga, yang kita dapat menikmati bau harumnya setiap pagi dan petang, maka janganlah kita membantah apa yang mereka perintahkan, jangan pula durhaka kepada mereka, jika itu kita lakukan, maka jangan harap kita bisa mencium bau harumnya surga, apabila itu kita lakukan, segeralah meminta maaf dengan tulus kepada kedua orang tua kita”. Dengan ucapan itu aku menjadi sadar bahwa aku selama ini sudah sangat durhaka sama kedua orang tua ku. Sungguh aku sangat menyesal sudah menghiraukan pesan orang tua terhadapku.
Keesokan harinya akad nikahku dengan Syarif berjalan dengan lancar. Ku lihat orang tuaku menangis haru bercampur senang dengan apa yang terjadi ini. Aku menyadari bahwa suamiku adalah orang yang sangat baik, ilmu agamanya sangat tinggi, aku sekarang sangat percaya bahwa pilihan orang tua itu tidak pernah salah untuk anak-anaknya, karena orang tua hanya ingin anaknya dalam jalan yang baik dan bahagia. Aku sangat berterima kasih kepada orang tuaku sudah menjodohkanku dengan orang yang tepat dan baik untuk hidupku. Aku juga sangat berterima kasih kepada Allah sudah memberiku hidayah dan memberiku kesempatan masih bisa membahagiakan orang tuaku. Aku selalu berdoa kepadaNya agar aku selalu diberikan rizki untuk berbakti kepada kedua orang tuaku dan kedua orang tua suamiku, dan agar aku dikumpulkan dengan mereka di surgaMu yang penuh kenikmatan. Aamiin.

*The End*

@oktha_lestari

0 komentar:

Posting Komentar